Anak Pejabat
Senin, 9 Agustus 2021
Ulangan 10:12-22
Mazmur 147
Matius 17:22-27
Salah satu jenis manusia yang paling terkenal (lebih secara negatif) di Indonesia adalah “anak pejabat.” Biasanya mereke ini tidak perlu kerja, tetapi bisa mendapatkan banyak fasilitas dan kemudahan hanya karena pengaruh orang tuanya. Berapa sering dalam obrolan kita sering terdengar: “Oh, restoran itu milik anak si jenderal anu.” Atau berapa sering kita menunggu antri di airport, tiba-tiba datang petugas bandara memotong antrian sambil mengantar seseorang. Biasanya kita langsung mengenali siapa si tamu khusus itu: “Oh, itu anaknya si menteri anu.”
Kita boleh saja merasa jengkel dengan tingkah laku para pejabat dan anak-anaknya yang semacam itu. Tetapi kenyatannya, jika kita bertukar tempat, sangat mungkin kita tergiur dengan perlakuan khusus sebagai anak pejabat. Kalau orang lain yang enak, kita iri. Tetapi kalau kita sendiri yang dapat enak, kita lupa orang lain.
Inilah pesan dari Tuhan yang disampaikan Musa kepada umat Israel: Kalau hidupmu enak setelah masuk tanah terjanji, jangan lupa memperhatikan dan mengayomi orang-orang asing di sekitarmu. Jangan lupa bahwa kau sendiri dulu pernah jadi orang asing di tanah Mesir.
Musa perlu mengingatkan ini karena inilah sifat kita manusia. Ketika kita sedang di bawah, kita berjuang membela kebenaran dan hak-hak kita. Tetapi ketika sudah di atas, kita hanya mementingkan diri kita sendiri dan mengacuhkan mereka yang ada di bawah. Seperti bunyi pepatah: “Seperti kacang lupa kulitnya.”
Dalam pembicaraannya dengan Petrus dalam Injil hari ini, Yesus menyatakan bahwa sebagai anak Allah, dia sebenarnya tidak perlu membayar pajak Bait Allah. Dia anak pejabat yang paling tinggi, Allah sendiri! Tetapi dengan rendah hati Yesus membayar pajak juga, supaya tidak menjadi batu sandungan bagi orang lain. Dia tidak mau menyalahgunakan fasilitas dan kemudahan yang tersedia baginya. Memang inilah hakikat mutlak Yesus, seperti dituliskan Santo Paulus:
“Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia.”
Karena itulah Inkarnasi Allah dapat terjadi dalam sejarah manusia, dan manusia bisa diselamatkan. Syukur kepada Allah!