Pertarungan
Bacaan I : 1 Samuel 17: 32-33, 37, 40-51
Bacaan Injil: Markus 3:1-6
Mata ayahku berkilat-kilat. Dengan semangat dia memberi petunjuk pada anak laki-lakinya: “Dik, besok kalau mereka menantang kamu berkelahi lagi, kamu harus siap ladeni. Kalau benar mereka berani memukulmu lebih dulu, kamu harus lawan! Pukul ganti! Serang! Terjang! Tendang! Eyang buyutmu itu warok Ponorogo, jagoan!” Aku terperanjat. Rasanya sudah aku jelaskan padanya bahwa pemimpin gerombolan anak nakal yang menggangguku itu berbadan jauh lebih besar dariku, lagi pula mereka banyak. Sedang aku, bocah kelas 2 SD, a new kid on the block, pernah ditolak masuk TK oleh suster karena tubuh kurus kecil dan wajah memelasku: “Biar dia masuk mulai tahun depan saja ya, Bu, kasihan ….”. Tapi aku tahu, Bapak tidak main-main dengan pesannya, meski kulirik Ibu terlihat cemas karena wadulanku malah menempatkanku pada posisi yang berbahaya. Lewat sudah masa aku bisa bernyanyi: Sopo wani karo aku, musuh Bapakku! (siapa berani dengan saya, ayo hadapi ayahku!). Kami semua tahu, Bapak sedang mengajar anak lanang-nya menjadi “laki-laki sejati”, yang tidak cengeng dan lari saat dihadang musuh, yang berani ambil resiko berpeluh darah membela harga diri dan kebenaran, yang bangga berjuang demi membela kebesaran nama keluarga. “Dik…. Hidup itu sebuah pertarungan! Nggak apa-apa kalau misalnya nanti kamu kalah berkelahi, asal kamu berani hadapi dengan yakin dan kamu ada dalam posisi yang benar. Bapak akan tetap bangga padamu!”
Hidup adalah sebuah pertarungan. Meski ribuan cerita telah terhamparkan, mulai dari Clash of Titans Yunani, Hikayat Ramayana dan Baratayudha, hingga kisah Harry Potter vs Voldemort, Narnia dan The Lord of the Rings, kadang kita suka menghindar dari kenyataan keras dan pedas ini. Kita lebih suka mengibaratkan hidup sebagai sebuah perjalanan dan menyanyikannya dalam lagu-lagu yang syahdu menyentuh hati seperti Mazmur 23 atau Berita kepada kawan-nya Ebiet G Ade. Hidup adalah sebuah pertarungan. Dan betapa Daud tahu dari pengalamannya menaklukkan singa maupun beruang, ia dapat selalu mengandalkan Allah sebagai penjamin kemenangannya. Sosok kekar dan perkasa Goliat, raksasa pahlawan Filistin, tidak membuatnya goyah, “Sebab di tangan Tuhanlah pertempuran (ini)..”.
Dalam hidup setiap manusia, betapapun kita cinta damai, selalu ada orang-orang atau kekuatan yang memaksa kita bereaksi dengan keras bahkan memancing kemarahan kita. Unsur pergulatan itu bahkan sudah dimulai dalam diri kita sendiri. Paulus kiranya mewakili kita semua waktu menyatakan pengalaman pribadinya mengamati pertarungan antara kehendaknya yang baik dan keinginan “daging”nya (Rom 7:15-25). Injil hari ini juga diakhiri dengan pertarungan atas hidup Yesus: “Lalu keluarlah orang-orang Farisi dan segera bersekongkol dengan orang-orang Herodian untuk membunuh Dia”.
Maka, jangan takut. Tuhan kita sudah mengalami semua pertarungan itu untuk kita, dan akan senantiasa menyertai kita berjuang di bawah panji-panji salibNya. Seperti Daud, kita mendapat jaminan bahwa pertarungan kita ada di tangan Tuhan. Dan kita pun akan menemukan bahwa kita bisa menaklukkan tantangan-tantangan yang kita yakini jauh melampaui kemampuan kita, karena Tuhan bersama kita. Hidup adalah sebuah pertarungan. Mari rapatkan barisan memperjuangkan dan mempertahankan kebenaran, keadilan, kebaikan, dimulai dari dalam diri kita sendiri!

7 thoughts on “Pertarungan”
Menurut aku, hidup adalah perjuangan, yg meliputi perjuangan lahir dan batin
Kalau hidup adalah pertarungan berarti ada musuh yg diajak bertarung, aku lebih suka perdamaian
Pertarungan kelihatannya selalu akan timbul, bukan saja pertarungan nyata antar manusia, akan tetapi juga di dalam hati kita sendiri, pertarungan antara niat baik dan kurang atau tidak baik. Bolos kerja karena sebel sama boss atau tetap masuk kerja, bolos sekolah karena belum bikin homework atau tetap sekolah dengan resiko dihukum, masak buat keluarga atau nonton film Korea, doa malam atau tidur aja karena sudah capek? Wah, pokoknya bejibun deh. Di sini diperlukan wisdom untuk memilih. Dan acuan yang bisa diandalkan dapat kita temukan dalam firman Tuhan.
Ibu Sri ytk, salam kenal. Terima kasih tanggapannya. Saya tambahkan komentar untuk memperjelas poin saya. Salah satu konteks hidup beriman yang mendasar adalah mengupayakan kebaikan dan melawan kejahatan. Yesus sendiri bersabda “Siapa tidak bersama Aku, ia melawan Aku dan siapa tidak mengumpulkan bersama Aku, ia menceraiberaikan” (Mat 12:30; Luk 11:23). Ia mengggambarkan diriNya dalam perumpamaan sebagai “orang yang lebih kuat dari setan yang bersenjata lengkap, yang menyerangnya, mengalahkannya dan merampas senjatanya” (Luk 11:20-22). Dengan kata lain, Yesus bertarung melawan musuhnya, setan. Tanggapan Yesus ini diberikan karena orang menuduh Dia mengusir setan dengan kuasa Beelsebul, sang penghulu setan, dengan kata lain menuduh bahwa Dia sebenarnya berdamai dan baik-baik saja dengan setan. Salam!
Wah..dasyat sekali renungannya!
Paulus itu seorang pejuang, hidupnya keras dan hampir mati 3x karena diterjang badai saat berlayar ke Yunani. Saat ia menulis surat, dia bisa sangat lembut dan menguatkan iman saudaranya, tapi sering dia berkisah pertarungan hidupnya dalam mewartakan injil.
Berperanglah dengan berikat keadilan, berzirah kebenaran, serta berperisai iman!
Thanks for your great reflection!
Terima kasih tanggapannya Romo Galih. Setuju sekali dengan acuan ke Paulus yang berkali berbicara tentang perjuangan melawan keinginan daging, iblis, roh jahat.
Terima kasih romo…
Sama -sama Ibu Lanny
Comments are closed.