Mengenal Yesus lebih jelas, mencintai-Nya lebih dalam dan mengikuti-Nya lebih dekat!

Mengenal Yesus lebih jelas, mencintai-Nya lebih dalam dan mengikuti-Nya lebih dekat!

Peringatan Wajib  St. Padre Pio dari Pietrelcina

Luk. 9:7-9 

Pada awal bacaan Injil hari ini, kita mendengar bahwa Raja Herodes dibuat bingung oleh Yesus, setelah mendengar semua yang dia lakukan. Pada jaman Yesus, Raja Herodes Antipas memerintah Provinsi Galilea atas nama Kaisar Roma. Lukas, pengarang injil, menggambarkan sikap Herodes ketika mereka akhirnya bertemu, yakni dalam kisah sengsara Yesus, ketika Pilatus mengirimkan Yesus kepada Herodes, Herodes menghina dan mengejek Yesus. “Maka mulailah Herodes dan pasukannya menista serta mengolok-olok Yesus. Ia mengenakan jubah kebesaran kepada Yesus, lalu mengirim Dia kembali kepada Pilatus” (Luk 23:11).

Raja Herodes berbeda dengan Natanael dan Nikodemus, yang juga dikisahkan dalam injil, tentang pencarian mereka untuk mengenal Yesus. Keingintahuan Natanael dan Nikodemus membawa mereka kepada iman.  Saudari-saudaraku, bagi orang-orang beriman ada banyak hal yang perlu dicari dan diperdalam mengenai kehidupan Yesus. Pertanyaan yang diajukan oleh Herodes, “Siapa gerangan Dia ini, yang kabarnya melakukan hal-hal demikian?” adalah pertanyaan yang juga wajib kita renungkan. Kita harus selalu mencari siapa Yesus itu gerangan karena kita tidak pernah bisa sepenuhnya mengenal Dia. Seperti yang dikatakan Santo Paulus, “sekarang kita melihat samar-samar seperti di cermin.” 

Hari ini kita memperingati St. Padre Pio dari Pietrelcina, seorang biarawan Kapusin. Padre Pio adalah imam pertama yang menerima stigmata Kristus. Bagi Padre Pio, iman adalah hidup: ia menghendaki segala sesuatu dan mengerjakan segala sesuatu dalam terang iman. Seringkali ia tampak tenggelam dalam doa-doa yang khusuk. Ia melewatkan siang hari dan sebagian besar malam hari dalam percakapan mesra dengan Tuhan. Padre Pio mengatakan, “Dalam kitab-kitab kita mencari Tuhan, dalam doa kita menemukan-Nya. Doa adalah kunci yang membuka hati Tuhan.” Iman membimbingnya senantiasa untuk menerima kehendak Allah yang misterius. 

Padre Pio memiliki dua prakarsa dalam dua arah: arah vertikal kepada Tuhan, dengan membentuk “Kelompok Doa” pada tahun 1920 yang masih aktif hingga kini dengan 400.000 pendoa yang tersebar di seluruh dunia. Arah horizontal kepada komunitas yang menderita, dengan mendirikan sebuah rumah sakit modern “Casa Sollievo della Sofferenza” (Rumah untuk Meringankan Penderitaan) yang dibuka pada tanggal 5 Mei 1956, dan hingga kini melayani sekitar 60.000 pasien setiap tahunnya.

Saudari-saudaraku yang terkasih, sebagaimana dicontohkan oleh Natanael, Nikodemus dan Padre Pio, mari kita berusaha untuk mengenal Yesus lebih jelas, mencintai-Nya lebih dalam dan mengikuti-Nya lebih dekat. Tuhan memberkati!

Comments are closed.
Translate »