Biarkan Allah yang Memegang Kendali

Biarkan Allah yang Memegang Kendali

Sabtu, Pekan ke 25

Za 2:1-5,10-11a;  Mazmur Yer. 31:10,11-12ab,13; 

Luk. 9:43b-45.

Tidak mudah bagi kita untuk melepaskan kendali. Adalah naluri alamiah kita sebagai manusia untuk selalu ingin mengendalikan setiap situasi dalam hidup kita. Bacaan-bacaan hari ini memanggil kita untuk memahami bahwa kita perlu untuk melepaskan kontrol atau kendali. Ada saat-saat dalam hidup ini ketika kita perlu menyerahkan kendali atau kontrol atas hidup kita kepada Tuhan, yang mungkin atau kadang bertindak melalui sesama kita. 

Bacaan Injil hari ini mengisahkan bahwa pada saat orang-orang sangat mengagumi Yesus, Dia mengumumkan bahwa diri-Nya akan diserahkan ke dalam kuasa manusia. Yesus tidak terbawa oleh kekaguman orang-orang terhadap-Nya. Tepat ketika semuanya penuh dengan terang dan janji, Yesus memperkenalkan prospek yang lebih gelap. Murid-murid-Nya akan senang dengan kekaguman yang diterima Yesus, tetapi menurut Injil mereka tidak dapat menerima prospek yang gelap yang Yesus berikan kepada mereka. “Mereka tidak mengerti perkataan itu, sebab artinya tersembunyi bagi mereka, sehingga mereka tidak dapat memahaminya. Dan mereka tidak berani menanyakan arti perkataan itu kepada-Nya.” 

Saudari-saudaraku yang terkasih, kita semua menemukan sisi gelap kehidupan yang sulit untuk dihadapi. Ketika semua tampaknya berjalan sesuai keinginan dan kontrol kita, kita senang. Tetapi, ketika semua tampaknya bertentangan dengan kita dan di luar kontrol kita, kita menjadi putus asa. Namun, terutama di saat-saat yang gelap itulah, Tuhan bersama kita untuk mendukung kita. Itulah pesan Tuhan kepada umat-Nya dalam bacaan pertama, “Dan Aku sendiri, demikianlah firman TUHAN, akan menjadi tembok berapi baginya di sekelilingnya, dan Aku akan menjadi kemuliaan di dalamnya.” Tuhan berjanji untuk menjadi tembok api pelindung bagi umat-Nya. 

Hal yang sama dikisahkan  dalam mazmur tanggapan hari ini, “Tuhan akan menjaga kita seperti gembala menjaga kawanannya.” Di saat-saat kehidupan kita terasa gelap, kita dapat memercayai Tuhan untuk menopang kita. Ketika kita merasakan kelemahan dan kerentanan kita sendiri, Tuhan selalu ada sebagai perlindungan dan kekuatan kita. Saudari-saudaraku yang terkasih seringkali pengalaman hidup yang gelaplah yang membuka kita lebih penuh terhadap kehadiran Tuhan yang menopang dan memberi kehidupan bagi kita. Semoga Tuhan selalu menguatkan kita, terlebih ketika kita sedang terpuruk!

Comments are closed.
Translate »