CARA MENGASIHI ALLAH

CARA MENGASIHI ALLAH

Senin, 4 Oktober 2021

Lukas 10:25-37

            Salah satu orang dari ahli Taurat datang mencoba untuk menjatuhkan Yesus dengan suatu pertanyaan. “Pada suatu kali berdirilah seorang ahli Taurat untuk mencobai Yesus, katanya: “Guru, apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?” (Luk 10:25).  Jawaban Yesus atas pertanyaan tersebut adalah Kasih sebagai jalan untuk memperoleh hidup yang kekal. Singat dan sederhana jawaban Yesus, namun untuk melaksanakannya dibutuhkan pengorbanan yang besar. “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu dan dengan segenap akal budimu, dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.”(Luk 10:27).

            Dengan demikian, cara untuk memperoleh hidup kekal bukan dengan kata-kata di mulut, dan juga bukan berhenti dalam doa, namun suatu tindakan yang nyata untuk menyatakan kasih dan kebaikan Allah kepada sesama terutama kepada mereka yang menderita, dan untuk mempersembahkan seluruh pengorbanan hidupnya untuk Allah.  Sebab ketika seseorang bertindak atas dasar kasih maka akan selalu disertai suatu pengorbanan. Dengan demikian tidak ada kasih (kebaikan) tanpa adanya pengorbanan. Yang menjadi bahan pengorbanan bukan binatang-binatang korban, tetapi hidupnya sendiri ketika ia mengandalkan Tuhan dan berbuat baik serta kasih. “Memang mengasihi Dia dengan segenap hati dan dengan segenap pengertian dan dengan segenap kekuatan, dan juga mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri adalah jauh lebih utama dari pada semua korban bakaran dan korban sembelihan.” (Mrk 12:33).

            Bagaimana agar seseorang bisa dengan senang hati berkorban demi kebaikan dan kasih kepada Allah? Dengan menggali dan menemukan peristiwa-peristiwa dan pengalaman bersama Allah di dalam hidupnya, seseorang akan menemukan motivasi untuk berbuat baik kepada orang lain, sama seperti yang ia telah alami dari dan bersama dengan Allah. Sebelum seseorang menemukan pengalaman kasih (rohani) bersama dengan Allah, maka ia juga tidak memiliki alasan untuk berbuat baik dan kasih kepada sesamanya.  Pengalaman kebaikan Allah tidak harus suatu peristiwa yang besar, namun hal-hal yang kecil yang setiap saat dialami, misalnya bernafas, hal tersebut bisa menjadi peristiwa penuh rahmat dari Allah, sebab nafas kehidupan adalah anugerah dari Allah sendiri. “…. Karena Dialah yang memberikan hidup dan nafas dan segala sesuatu kepada semua orang.”(Kis 17: 25).

            Dengan demikian, dengan selalu menyadari hal-hal yang kecil, ,maka seseorang akan bisa merasakan kebaikan dan kasih Allah. Setelah sadar, maka ia akan bersuka cita dan bersyukur. Dari sanalah akhirnya seseorang bisa berbagi dan berbuat kasih dan kebaikan kepada sesamanya. “Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi, sama seperti Aku telah menghasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi.”(Yoh 13; 34).

Prigen, Rm. Didik, CM

Comments are closed.
Translate »