Urgensi dan buah pertobatan diri
Rm 8:1-11; Lk 13:1-9
Keberadaan kita di dunia bukan tanpa maksud apa-apa atau semacam kecelakaan atau kebetulan belaka. Sesungguhnya tidaklah demikian! Semua ada dalam penyelenggaraan Ilahi. Allah sendiri yang merencanakan dan memberi hidup bagi semua yang ada, dan seperti pohon sebagai simbol kehidupan, kita adalah representasi kehadiran Ilahi dan dipanggil untuk menjadi kanal-kanal yang membagikan rahmat hidup yang diberikan Allah sendiri. Maka seperti seorang petani yang selalu mengharapkan buah dari apa yang ia tanam, demikian juga Allah.
Injil hari ini berbicara tentang pohon ara yang tidak berbuah. Perumpamaan ini mengingatkan kita tentang apa yang disebut kekeringan spiritual yang disebabkan oleh sikap indiferen terhadap undangan keselamatan Allah. Sikap ini menyebabkan kekerasan hati terhadap Allah sebagai akibat dari kepada dosa ketidakpercayaan.
Dalam kaitan dengan pertobatan, sikap pemilik kebun untuk memberi tenggang waktu setahun lagi adalah peringatan keras yang menunjukkan betapa pentingnya pertobatan: suatu kondisi kritis yang butuh sentuhan dan perbaikan. Ini adalah kesempatan yang baik untuk meninjau, melihat kembali ke dalam, menemukan apa yang salah dalam diri dan diperbaiki. Kita yakin dan percaya bahwa Roh Kudus selalu hadir untuk membantu kita, membimbing dan mengarahkan, untuk bercermin dan mengevaluasi diri, mengelola diri secara lebih baik lagi, agar oleh rahmat Tuhan sendiri, pertumbuhan boleh datang dan menghasilkan buah. Salah satu buah pertobatan adalah penyembuhan diri yang mengarah kepada persatuan kembali dengan Allah dan sesama; sementara Allah sendiri adalah sumber yang memberi hidup dan pertumbuhan baru.