Hidup Diubah, Bukan Dilenyapkan
Selasa, 2 November 2021
Hari Raya Peringatan Semua Arwah Orang Beriman
Kebijaksanaan 3:1-9
Roma 6:3-9
Yohanes 6:37-40

Beberapa orang Indonesia di Amerika sini pernah bertanya dengan heran, mengapa di gereja-gereja yang memiliki populasi orang-orang dari Meksiko sering terdapat dekorasi dengan tengkorak atau orang-orang yang mengecat mukanya seperti tengkorak di sekitar tanggal 2 November.
Tradisi ini berasal dari Meksiko dan merupakan salah satu contoh inkulturasi ajaran Gereja Katolik dengan budaya setempat. Tengkorak bukan dimaksudkan untuk menakut-nakuti anak kecil, tetapi simbol orang-orang yang sudah mendahului kita, di mana mereka bersukaria, menari, dan makan di alam baka. Tradisi lainnya adalah dengan mendirikan altar dengan menaruh foto-foto keluarga dan teman yang sudah meninggal, dan juga makanan-makanan yang diperuntukkan untuk mereka nikmati.
Kalau anda pernah menonton film animasi Disney “Coco” yang keluar beberapa tahun lalu, mungkin anda masih ingat cerita bagaimana pada hari ini dipercaya batas pemisah antara dunia orang hidup dan orang mati ditiadakan, sehingga roh-roh orang yang sudah meninggal dapat berkumpul bersama keluarga mereka yang masih hidup untuk makan dan minum dan berkumpul bersama.

Di paroki kami juga terdapat kuburan yang sudah ada sejak gereja Mission dibangun di 1798 dan diperluas dan dibuka untuk umum sampai hari ini. Biasanya setiap tanggal 2 November, orang-orang yang berasal dari Meksiko datang bersama ke makam keluarga mereka dan menghabiskan waktu dengan minum coklat panas dan makan dan berbagi cerita tentang keluarga mereka yang sudah meninggal, terutama untuk anak dan cucu yang mungkin tidak pernah bertemu muka.
Di sinilah tradisi “Dia de Los Muertos” (Hari Orang Mati) ini menguatkan ajararan Gereja kita. Dalam Prefasi Doa Syukur Agung untuk Misa Arwah terdapat kata-kata: “Sebagai umat beriman kami yakin bahwa hidup hanyalah diubah, bukannya dilenyapkan.” Sebagai orang Katolik kita percaya bahwa kita masih mempunyai hubungan dengan mereka yang mendahului kita, di mana kita bisa meminta mereka untuk menjadi perantara kita kepada Allah di surga, di mana mereka hidup dalam damai abadi dengan Kristus dan senantiasa memuji dan menyembahNya. Dan dengan selalu mengingat mereka melalui cerita-cerita tentang kehidupan mereka, mereka pun menjadi “hidup” dan tidak lenyap dalam hati dan ingatan kita.