Tuhanlah Keamanan Terbaik

Tuhanlah Keamanan Terbaik

Yesaya 26:1-6; Mat 7:21-27

Kamis, Pekan Adven I


Apa keamanan terbaik terhadap bencana dan kehancuran akibat serangan musuh? Di dunia kuno, sebuah kota yang kuat, benteng yang tak tertembus, dan rumah yang aman dibangun di atas batu yang kokoh karena mereka dapat menahan kekuatan alam dan musuh. Nabi Yesaya, dalam bacaan Pertama, berbicara tentang Allah sebagai “batu karang yang kekal” (Yesaya 26:4). Yesaya menyerukan sebuah keyakinan akan satu keamanan atau kekuatan yang lebih perkasa dari apa pun, yaitu Tuhan. Dia yang menciptakan dan mengalaskan bumi, menjanjikan kemenangan bagi orang-orang lemah.

Dalam injil hari ini, Yesus menegaskan siapa yang bakal masuk dalam Kerajaan Surga. Bagi Yesus Kerajaan Surga hanya layak bagi mereka yang melakukan kehendak Bapa. Hal melakukan kehendak Bapa ditegaskan melalui gambaran orang yang mendirikan rumah yang kokoh di atas batu. Gambaran ini mengajak kepada kita untuk meyakini bahwa keselamatan dimulai dari keterbukaan untuk mendengarkan Sabda Tuhan dan melaksanakannya. Yesus berkata, “Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga.”

Saudari-saudaraku yang tekasih, di awal masa Adven ini sudah sepantasnya kita memberanikan diri untuk menyandarkan harapan kita pada Tuhan, menanti pemenuhan janji-Nya dalam ketekunan mendengarkan sabda dan membiarkan Tuhan menuntun hidup kita untuk melaksanakan ketetapan dan perintah-Nya. Dalam itu semua kita diingatkan bahwa bukan berapa banyak kita menyerukan nama Tuhan, melainkan seberapa lebar telinga dan hati kita buka untuk membiarkan sabda-Nya mengisi relung hati dan menjadi penggerak utama hidup kita. Doa-doa kita mungkin terdengar indah bahkan dengan nyanyian pujian, tetapi itu tidak akan membawa keselamatan kalau tidak pernah dilakukan dalam keseharian hidup. Ketekunan melakukan apa yang diajarkan Yesus akan membuat kita pantas memasuki Kerajaan Surga.

Mari, sebagai bahan renungan pribadi, saya mengajak Anda untuk bertanya: Apa dan siapa yang menjadi fondasi iman dalam hidupku? Dan komitmen apa yang akan Anda lakukan untuk memperkokoh fondasi iman Anda tersebut?

Tuhan memberkati!

Comments are closed.
Translate »