Siapa Raja dalam Hidup Kita?
Sabtu, 15 Januari 2022
1 Samuel 9:1-4, 17-19; 10:1
Mazmur 21
Markus 2:13-17
Bacaan pertama hari ini adalah kelanjutan dari kemarin, di mana bangsa Israel mengambil keputusan yang mengubah drastis cara hidup mereka: mempunyai seorang raja untuk memerintah mereka. Dikatakan drastis karena sebelumnya mereka tidak pernah mempunyai raja. Setelah kematian Yosua yang membawa mereka masuk ke tanah terjanji, mereka dipimpin oleh seorang shoftim (hakim). Hakim dipilih dari antara keduabelas suku. Dia memimpin Israel dalam peperangan dan juga dalam mengambil keputusan-keputusan penting. Bagi orang Israel saat itu, hanya ada satu raja: Allah sendiri.
Tetapi setelah mengalami banyak peperangan dengan tetangga-tetangganya, Israel merasa tidak puas dengan situasi ini. Mereka cemburu dengan bangsa lain yang punya raja sebagai pemimpin. Mereka menuntut Samuel, hakim Israel pada waktu itu, untuk menunjuk seorang raja bagi mereka. Dengan demikian, mereka secara implisit menolak Allah sebagai raja mereka. Samuel sangat tidak setuju, dan dia memperingatkan mereka bahwa di kemudian hari mereka akan merasa tidak puas atas orang-orang yang menjadi raja mereka. Tetapi orang Israel tidak peduli, dan Allah pun merelakan untuk mengabulkan keinginan mereka.
Bagi kita umat Kristiani, mungkin kita merasa bahwa tidak ada manusia yang kita perlakukan seperti raja. Bukankah Indonesia atau Amerika Serikat adalah negara demokrasi yang dipimpin presiden? Kecuali kalau ada dari kita yang pengikut fanatik seorang politikus, di mana kita anggap mereka tidak pernah salah. Tetapi kalau kita lihat lebih dalam lagi, mungkin ada sesuatu yang lain yang menjadi raja dalam hidup kita: uang, status, ketenaran.
Mari kita introspeksi secara jujur. Apakah Allah benar-benar raja dalam hidup kita? Ataukah kita lebih mementingkan sesuatu yang lain dan membiarkannya mengendalikan hidup kita?