KETERBUKAAN
Rabu, 23 Februari 2022
Markus 9:38-40
Yesus menegur para murid-Nya untuk tidak melarang mereka yang mengusir setan dengan nama Yesus Kristis. “Tetapi kata Yesus: “Jangan kamu cegah dia! Sebab tidak seorang pun yang telah mengadakan mujizat demi nama-Ku, dapat seketika itu juga mengumpat Aku. “(Mrk 9:39). Pesan Yesus tersebut menyatakan bahwa setiap murid Kristus harus memiliki keterbukaan untuk menerima siapa pun yang berniat baik.
Dengan demikian orang beriman dalam gereja bukan sebagai kelompok yang ekslusif (tertutup) melainkan komunitas yang terbuka (influsif) yang mampu merangkul semua orang untuk bisa mengikuti semangat Yesus Kristus, yang peduli pada penderitaan sesama. Perbedaan bukan menjadi penghalang dalam kerja sama membangun Kerajaan Allah. “Akhirnya, saudara-saudaraku, bersukacitalah, usahakanlah dirimu supaya sempurna. Terimalah segala nasihatku! Sehati sepikirlah kamu, dan hiduplah dalam damai sejahtera; maka Allah, sumber kasih dan damai sejahtera akan menyertai kamu!”(2 Kor 13:11).
Ketika seseorang terbuka akan segala yang baik, maka ia akan bisa bekerja sama dengan orang-orang yang baik pula, di dalam mewujudkan nilai-nilai yang datang dari iman pada Yesus Kristus. Sebaliknya jika seseorang tertutup dan hanya melihat dirinya sendiri dan kelompoknya saja maka ia menutup juga semua hal yang baik dari Tuhan yang juga berkerja di luar kelompoknya. Damai sejahtera terwujud karena ketika seseorang bisa hidup berdampingan dengan yang lain dan saling mengisi sesuai keunikannya dan saling tolong- menolong untuk kesejahteraan bersama. Oleh karena orang yang sombong dan menutup diri akan kebaikan tidak akan cocok dan tidak akan bisa memberi apa-apa untuk mewujudkan Kerajaan Allah. “Bertolong-tolonganlah menanggung bebanmu! Demikianlah kamu memenuhi hukum Kristus.”(Galatia 6:2).
Rm. Didik , CM