MELIHAT TANDA

MELIHAT TANDA

Rabu, 9 Maret 2022


Lukas 11:29-32

Yesus mengungkapkan keprihatinan-Nya kepada mereka yang masih belum percaya dan masih meminta tanda. “Ketika orang banyak mengerumuni-Nya, berkatalah Yesus: “Angkatan ini adalah angkatan yang jahat. Mereka menghendaki suatu tanda, tetapi kepada mereka tidak akan diberikan tanda selain tanda nabi Yunus.”(Luk11:29). Apa yang telah dilakukan oleh Yesus dimata mereka: menyembuhkan orang sakit, memberi makan 5000 orang, menghidupkan orang mati dan sebagainya, tidak juga membuat mereka percaya karena hati mereka masih tertutup untuk Yesus.

Dengan demikian Yesus menyatakan bahwa untuk bisa melihat tanda kasih Allah yang perlu ada adalah iman/percaya di dalam hatinya. Tanpa iman maka manusia tidak akan mampu melihat dan merasakan kehadiran Allah. “Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat.”(Ibrani 11:1).
Oleh karena itu, untuk menerima iman yang kokoh diperlukan keberanian untuk menanggalkan keraguan dan dengan rendah hati menyadari kerapuhannya sebagai manusia dan kemudian menyerahkan hidup kepada Allah.  Dengan keberanian menyerahkan diri kepada  Tuhan, maka segalanya akan berjalan dengan baik dan di dalam lindungan-Nya mereka akan mampu menghadapi semua kesulitan dan berjalan dengan pengharan dan damai.   “Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.”(Filipi 4:13).

Oleh karena itu, setiap murid Kristus didorong untuk tetap setia di dalam iman. Jika dalam menjalani hidup terjadi pasang surut karena kelemahan-kelemahannya hal itu bukan berarti Tuhan tidak tahu, namun dengan cara itulah seseorang bisa belajar dan semakin dimurnikan imannya, agar setelah proses pemurnian tersebut, ia semakin lebih kuat lagi dalam pengharapan. “Dan bukan hanya itu saja. Kita malah bermegah juga dalam kesengsaraan kita, karena kita tahu, bahwa kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan, 
dan ketekunan menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan.”(Roma 5:3-4).

Rm. Didik, CM 

Comments are closed.
Translate »