SEPENUH HATI MENGIKUTI KRISTUS
Jumat, 11 Maret 2022
Matius 5:20-26
Tuhan Yesus mengajak para murid-Nya untuk menghayati imannya dengan sepenuh hati, sepenuh jiwa dan sepenuh kekuatannya. Oleh karena itu ketika seseorang beriman atau mengikuti Kristus bukan secara setengah-setengah. Sebab mengikuti Kristus bukan untuk mencari kesenangan dan kepuasan rohani tetapi untuk ikut berjuangan menghadirkan Kerajaan Allah di dalam kehidupannya. Maka Aku berkata kepadamu. “Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga.” (Mat 5:20). Mengapa Yesus menyebut orang Farisi dan ahli Taurat sebagai contoh yang tidak baik? Karena mereka menjalani hidup iman mereka dengan tidak tulus dan tidak sepenuh hati. “Semuanya itu didengar oleh orang-orang Farisi, hamba-hamba uang itu, dan mereka mencemoohkan Dia.”(Luk 16:14)
Dengan demikian Yesus mengajak semua pengikut-Nya untuk tidak ragu-ragu dalam percaya dan menyadari betapa Allah Bapa mengasihinya, sehingga mereka mereka juga berani menyerahkan hidup kepada bimbingan Roh Kudus dan dengan sekuat tenaga, hati, jiwa dan kekuatan mengasihi Allah yang lebih dahulu telah mengasihi mereka, dengan berjuang melakukan kehendak-Nya, yaitu melawan dosa dan melalukan banyak kebaikan. “Jawab Yesus kepadanya: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu.”(Mat 22:37).
Oleh karena itu, sebagai orang yang percaya kepada Kristus, setiap murid Kristus akan menjalani hidup seperti Kristus sendiri sebagai jiwa dan penggerak hidup mereka. “…sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.”(Mat 20:28). Sebagai murid Kristus tidak bisa ia menolak cara hidup Kristus yang berani dengan tulus melayani dengan kasih dan pengorbanan, jika ia ingin tetap setia kepada-Nya. Dengan melayani, seseorang juga telah mematahkan sikap egiosme dan kesembongan yang menjadi akar dari dosa.
Rm. Didik, CM