Eksodus: Dari Transfigurasi ke Kalvari

Eksodus: Dari Transfigurasi ke Kalvari

Minggu Kedua Prapaskah [C]

12 Maret 2022

Lukas 9:28b-36

Setiap Minggu kedua Prapaskah, Gereja memilih kisah Transfigurasi untuk pembacaan Injil kita. Pada saat ini, Yesus bersama dengan tiga murid yang dipercaya, naik ke sebuah bukit, dan di sana, dia berubah rupa. Dia memancarkan kemuliaan ilahi dan wajah-Nya berubah menjadi cahaya terang. Bahkan dua orang terbesar dalam Perjanjian Lama, Musa dan Elia hadir dan menemani Yesus. Dia memanifestasikan kodrat ilahi-Nya kepada ketiga murid-Nya, dan itu adalah saat yang sangat menyenangkan. Simon tidak ingin pengalaman itu berlalu begitu saja, dan menawarkan untuk membangun tenda di sana. Pertanyaannya adalah mengapa Gereja memilih bacaan ini untuk masa Prapaskah?

Jawabannya terletak pada topik yang sedang dibahas oleh Musa, Elia dan Yesus: Eksodus atau Keluaran. Ketika kita mendengar kata eksodus atau keluaran, hal pertama yang terlintas dalam pikiran adalah bangsa Israel di bawah Musa keluar dari perbudakan Mesir. Dari Mesir, orang Israel melewati Laut Merah, padang gurun dan akhirnya memasuki Tanah Terjanji. Tujuan akhir mereka adalah kota Yerusalem. Lalu, mengapa Yesus berbicara tentang eksodus-Nya?

Alasannya adalah bahwa Yesus adalah Israel yang baru, dan seperti Israel lama yang melewati eksodus, Yesus harus menjalani eksodus-Nya. Namun, tidak seperti Israel lama yang memulai eksodus mereka di Mesir, Yesus memulai eksodus-Nya di Yerusalem. Tidak seperti Israel lama yang tidak setia kepada Tuhan di padang gurun, bersungut-sungut dan menyembah berhala, Yesus taat kepada Bapa-Nya melalui penderitaan dan kematian. Tidak seperti Israel lama yang memasuki Tanah Perjanjian dengan banyak pertempuran dan kekalahan, Yesus bangkit dari kematian dan menang secara definitif terhadap Setan dan kerajaan-Nya. Tidak seperti Israel kuno yang naik ke kota Yerusalem duniawi, Yesus dengan mulia naik ke Yerusalem surgawi.

Setelah peristiwa Transfigurasi, Yesus tidak lagi tinggal di Galilea, tetapi terus bergerak menuju kota Yerusalem. Inilah alasan mengapa kita memiliki bacaan ini untuk masa Prapaskah. Saat Yesus melakukan perjalanan menuju eksodus-Nya di Yerusalem, kita juga berjalan bersama Yesus di masa Prapaskah ini menuju Trihari Suci: dari gunung Transfigurasi ke gunung Kalvari.

Kisah Transfigurasi dalam konteks Prapaskah memberi kita pelajaran berharga. Seperti Petrus, kita suka berlama-lama di saat-saat mulia dalam hidup kita. Namun, Yesus mengajarkan bahwa kemuliaan sejati ada setelah melewati eksodus. Mesir kita tidak lain adalah diri kami yang lama dimana kita diperbudak oleh dosa. Setiap kemuliaan tanpa mau mati terhadap diri kita sendiri adalah palsu, semu dan bahkan membuat ketagihan. Ini tentu tidak mudah karena kita mencari perasaan nikmat, dan ketika kita terbiasa, semakin sulit untuk melepaskan diri. Melalui aksi Prapaskah, yakni puasa, doa dan amalkasih, kita belajar bagaimana mati terhadap keinginan kita untuk menikmati kepuasan secara instan. Ketika kita mampu mengatur keinginan duniawi kita dengan benar, semakin hati kita menginginkan Tuhan, dan saat kita menyatu dengan Tuhan, kita menemukan kemulian sejati kita.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Comments are closed.
Translate ยป