Mengapa Tetap Harus Mengasihi

Mengapa Tetap Harus Mengasihi

Minggu Paskah ke-5 [C]

15 Mei 2022

Yohanes 13:31-35

Yesus memberikan perintah baru kepada murid-murid-Nya: untuk saling mengasihi. Ini bukan sekedar saran, nasehat, atau rekomendasi. Itu adalah perintah, dan karena itu, itu adalah suatu kewajiban untuk dilakukan. Yang lebih menarik adalah bahwa Yesus secara bijaksana menghubungkan Perintah Baru-Nya ini dengan yang lama: Sepuluh Perintah Allah. Lalu, apa hubungannya? Dan mengapa Yesus membuat perintah baru ini?

Jika kita kembali ke konteks sejarah pemberian Sepuluh Perintah Allah, bangsa Israel baru saja dibebaskan dari Mesir, dan mereka berkemah di Gunung Sinai. Di sana, Allah datang dan menawarkan perjanjian-Nya: Tuhan akan menjadi Allah mereka, dan Israel akan menjadi bangsa-Nya. Kemudian, Tuhan memberikan Sepuluh Perintah Allah dan hukum-hukum lainnya, yang bisa dilihat sebagai konstitusi atau undang-undang dasar tentang bagaimana menjadi umat Tuhan. Dengan mematuhi dan menjalankan hukum-hukum ini, mereka akan menjadi bangsa yang kudus. Mereka adalah bangsa yang berbeda dari bangsa-bangsa lain, tetapi juga suatu bangsa yang dipisahkan untuk Tuhan.

Kembali lagi ke Perjamuan Terakhir Tuhan, Yesus memberikan Perintah Baru. Berhubungan dengan Perjanjian Lama, perintah Yesus bukan hanya sebuah kewajiban untuk dilakukan, tetapi juga sebuah identitas kita sebagai murid Yesus. Ini adalah perintah yang membuat kita berbeda dari yang lain. Tidak heran Yesus menjelaskan kepada murid-murid-Nya, “Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi [Yoh 13:35].” Ini adalah perintah yang menguduskan kita, terpisah dari yang lain dan untuk Yesus.

Namun, kita tahu bahwa untuk mengasihi itu sulit. Saat kita mengasihi seseorang, kita menjadi rentan, dan kita terbuka terhadap kemungkinan terluka. Kita bisa dikhianati oleh orang-orang yang kita cintai dan percayai, teman-teman kita, pasangan kita, saudara-saudara kita, dan anak-anak kita. Terluka oleh pengkhianatan, kita cenderung membangun tembok di sekitar hati kita, dan kemampuan kita untuk mengasihi menjadi kerdil.

Mengapa Yesus bersikeras pada kasih, sampai menjadikannya sebagai perintah baru? Jawabannya adalah bahwa kasih adalah siapa Yesus itu sendiri. ‘Kasihilah sesamamu seperti Aku telah mengasihi kamu!’ Yesus mengasihi murid-murid-Nya, tetapi setelah Perjamuan Terakhir, seorang murid mengkhianati Dia, yang lain menyangkal Dia, dan banyak yang meninggalkan Dia. Orang-orang yang sangat Dia kasihi, menyalibkan Dia. Namun, Yesus tidak pernah menjadi korban yang tidak berdaya. Dia memasuki penderitaan-Nya dengan sukarela, dan Dia mengubah kematian-Nya menjadi tindakan penyerahan diri total. Yesus tahu bahwa murid-murid-Nya akan melakukan hal-hal yang mengerikan, tetapi Dia memilih untuk merayakan Perjamuan Terakhir yang mesra dengan mereka. Dia mengampuni orang yang menyalibkan-Nya. Dia memberikan kasih terakhir-Nya kepada ibu-Nya dan murid-Nya. Bahkan kematian tidak menghentikan Dia untuk mengasihi. Dia bangkit kembali dan membawa pengampunan dan kedamaian bagi murid-murid-Nya. Dia kemudian mengirimkan Roh Kudus-Nya sebagai tanda kasih-Nya yang kekal.

Mengasihi sepenuhnya dan berkorban adalah identitas kita sebagai murid Yesus. Meskipun mencintai seringkali sulit dan terkadang, menghancurkan hati, tetapi cinta adalah siapa kita sebagai gambar Tuhan. Tidak ada acara lain menjadi murid Yesus kecuali mengasihi, dan tidak ada jalan menuju surga kecuali jalan kasih.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Comments are closed.
Translate »