Tiga Alasan Setia kepada Yesus

Tiga Alasan Setia kepada Yesus

Minggu Paskah ke-6 [C]
22 Mei 2022
Yohanes 14:23-29

Yesus meminta kita untuk taat kepada sabda-Nya. Namun, setidaknya ada tiga alasan mengapa seseorang taat kepada Yesus. Apakah tiga motivasi ini dan kira-kiranya motif apa kita miliki dalam mengikuti Yesus. Yuk, kita simak lebih dekat dalam refleksi minggu hari ini.

Alasan pertama adalah rasa takut, dan ketakutan adalah motivasi sejatinya sangat kuat. Ketakutan biasanya menjadi dasar dari hubungan antara majikan-budak. Budak melakukan sesuatu karena mereka takut akan hukuman majikannya. Mereka takut akan rasa sakit, namun anehnya, mereka menjadi tergantung pada tuannya karena mereka akan melakukan apa pun yang diperintahkan majikannya tanpa banyak berpikir. Kadang-kadang, kita melihat Tuhan sebagai seorang majikan yang mengontrol kita para budak-Nya. Kitapun mematuhi firman dan aturan Tuhan karena kita takut akan hukuman. Pada gilirannya, kita juga menjadi kaku dan kejam terhadap orang lain yang gagal melakukan perintah Tuhan atau ajaran Gereja.

Alasan kedua adalah profitabilitas. Profit atau keuntungan adalah dorongan kuat lain di kehidupan kita. Motivasi berorientasi profit biasanya tercermin dalam relasi bisnis atau kontrak kerja antara karyawan dan bosnya. Orang-orang akan mentaati bos mereka atau kontrak selama itu menguntungkan. Saat itu tidak lagi bermanfaat bagi mereka, mereka berhenti untuk setia. Kemudian, mereka akan kecewa atau marah. Terkadang, kita juga memperlakukan Tuhan tidak lebih dari sekedar rekan bisnis atau bos perusahaan, dan kita setia kepada-Nya hanya ketika kita merasakan manfaatnya bagi kita. Kita berdoa ketika kita memiliki masalah dan ingin Tuhan menyelesaikannya secara instan. Kita pergi ke Gereja ketika kita perlu merasa diberkati. Namun, ketika kita tidak mendapatkan apa yang kita dapatkan, kita akan frustrasi atau marah.

Alasan terakhir adalah kasih. Motif ini luar biasa karena tidak seperti ketakutan dan keuntungan, kasih tidak memberi kita hukuman atau imbalan eksternal. Kasih mengalir dari dalam dan memenuhi orang lain dengan kebaikan. Hubungan berdasarkan kasih dapat dilihat dalam persahabatan. Teman atau sahabat sejati peduli dan berbuat baik kepada sahabatnya, tetapi bukan karena rasa takut atau hanya sekedar mencari keuntungan pribadi. Teman sejati tetap ada di saat-saat sulit, dan teman sejati tetap setia meski tidak mendapatkan imbalan apa pun. Mereka tahu apa hal yang benar untuk dilakukan, dan mereka melakukannya demi teman-teman mereka. Pepatah mengatakan ‘Friends in need are friends indeed’ [Teman di waktu sulit adalah teman sejati].

Yesus memahami dinamisme ini dengan sangat baik, dan dengan demikian, Dia tidak menyebut murid-murid-Nya ‘budak’ tetapi ‘sahabat’. “Kamu adalah sahabat-Ku jika kamu melakukan apa yang Aku perintahkan kepadamu [Yoh 15:14].” Dorongan sejati dalam menaati dan setia kepada Yesus adalah kasih, dan bukan ketakutan atau keuntungan. Mengapa? Karena Tuhan kita bukanlah majikan yang kejam yang selalu mencari kesalahan atau bos yang terus-menerus memantau kinerja kita dalam hal-hal rohani. Tuhan kita adalah kasih.

Kasih melahirkan kasih, dan kasih menuntut kasih. Yesus mengasihi murid-murid-Nya sampai akhir, dan satu-satunya tuntutan-Nya adalah mengasihi Dia sampai akhir. Namun, paradoksnya adalah seseorang tidak dapat memaksakan kasih sejati. Meskipun Yesus mengikat kita dengan perintah kasih, Dia tidak memaksa, dan karena itu, selalu ada kemungkinan pengkhianatan dan penolakan. Namun, terlepas dari kemungkinan buruk ini, Yesus terus mengasihi kita karena Dia tidak dapat menyangkal diri-Nya yang adalah kasih.

Kita pada dasarnya bukan hamba atau pegawai Allah, tetapi kita adalah sahabat-sahabat Yesus. Oleh karena itu, kita memohon kepada Tuhan rahmat yang diperlukan untuk menghidupi identitas kita sebagai sahabat Kristus, yang setia kepada-Nya karena kasih.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Comments are closed.
Translate »