SUKA-CITA

SUKA-CITA

Sabtu, 11 Juni 2022



Matius 10:7-13

Yesus mengajak para murid-Nya untuk dengan iman dan keberanian mewartakan Kerajaan Allah, dimana di dalamnya mereka menyebarluaskan kebaiikan-kebaikan Allah, dalam peyanan. Alasan mereka untuk mewartakan kebaikan Tuhan adalah karena Tuhan telah lebih dahulu memberikan hidup-Nya (Nyawa-Nya) dan kebaikan-kebaikan kepada mereka. Oleh karena itu, mereka dengan tanpa mengharapan sesuatu rela mewartakan Yesus Kristus yang hidup. “Pergilah dan beritakanlah: Kerajaan Sorga sudah dekat. Sembuhkanlah orang sakit; bangkitkanlah orang mati; tahirkanlah orang kusta; usirlah setan-setan. Kamu telah memperolehnya dengan cuma-cuma, karena itu berikanlah pula dengan cuma-cuma.”( Mat 10:7-8 ).

Dengan demikian, semangat para murid dalam mewartakan Kerajaan Allah bersumber dari pengalaman seseorang akan kebaikan-kebaikan Allah. Oleh karena itu, jika mereka semakin menyadari kebaikan Tuhan dalam hidup mereka, maka semakin rela dan berani mereka membagikan kebaikan kepada sesama, dan sebaliknya. Oleh karena itu, bagi setiap murid Kristus membutuhkan waktu khusus, waktu yang disiapkan untuk merenungan karya kebaikan Allah dalam hidup, agar semakin kuat dalam melihat bahwa Dia mengasihinya. “Aku hendak menyebut-nyebut segala pekerjaan-Mu, dan merenungkan perbuatan-perbuatan-Mu. Ya Allah, jalan-Mu adalah kudus!
Allah manakah yang begitu besar seperti Allah kami? Engkaulah Allah yang melakukan keajaiban; Engkau telah menyatakan kuasa-Mu di antara bangsa-bangsa.”(Mzm 77:13-15).

Pada akhirnya, Tuhan Yesus merindukan pada murid-Nya bisa mengikuti-Nya dan menerima suka-cita yang berlimpah serta membagikan suka-cita rahmat  keselamatan tersebut kepada sesamanya. Sebab Dia adalah sumber suka-cita itu. “Engkau memberitahukan kepadaku jalan kehidupan; di hadapan-Mu ada sukacita berlimpah-limpah, di tangan kanan-Mu ada nikmat senantiasa.”(Mzm 16:11). Dia rindu anak-anak-Nya hidup dekat-Nya dan setia merenungan Sabda-Nya, agar ia tetap hidup. “…tetapi yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam. Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya,” (Mzm 1:2-3). Dan di dalam relasi dengan Allah setiap orang menerima damai-Nya. “Hanya dekat Allah saja aku tenang, dari pada-Nyalah keselamatanku.”(Mzm 62:2).

Didik, CM 

Comments are closed.
Translate »