BERSUKA CITA
Jumat, 24 Juni 2022
Lukas 15:3-7
Tuhan Yesus menyatakan kepada para murid-Nya bahwa di hadapan Allah, setiap orang adalah pribadi yang berharga. Oleh karena itu, Yesus berdoa kepada Bapa-Nya agar mereka tetap tidak jauh dari Allah, bahkan Dia rindu selalu dekat dan menjadi satu dengan murid-murid-Nya. “Dan Aku tidak ada lagi di dalam dunia, tetapi mereka masih ada di dalam dunia, dan Aku datang kepada-Mu. “Ya Bapa yang kudus, peliharalah mereka dalam nama-Mu, yaitu nama-Mu yang telah Engkau berikan kepada-Ku, supaya mereka menjadi satu sama seperti Kita.”(Yoh 17:11). Ketika mereka jatuh dalam kelemahan, Yesus mendorong mereka untuk datang kepada-Nya dengan penyesalan dan bertobat lalu menerima mereka kembali untuk menerima damai-Nya. “Aku berkata kepadamu: Demikian juga akan ada sukacita di sorga karena satu orang berdosa yang bertobat, lebih dari pada sukacita karena sembilan puluh sembilan orang benar yang tidak memerlukan pertobatan.”(Yoh 15:7).
Dengan demikian, Allah yang Baik tidak menginginkan anak-anak-Nya berjalan dijalan yang salah dan karena Dia mengasihi mereka, Dia menarik mereka menuju tempat yang aman dan berjalan di jalan yang benar. Allah mengasihi bukan seperti manusia mengasihi sesamanya sebab Dia adalah Baik. “Sekalipun ayahku dan ibuku meninggalkan aku, namun TUHAN menyambut aku.Tunjukkanlah jalan-Mu kepadaku, ya TUHAN, dan tuntunlah aku di jalan yang rata oleh sebab seteruku.”(Mzm 27:10-11).
Oleh karena itu, agar kerinduan Tuhan Yesus untuk selalu dekat dengan murid-murid-Nya tercapai maka diperlukan keterbukaan hati dari manusia. Dia tidak pernah memaksa anak-anak-Nya ketika Tuhan mau masuk di dalam hidup mereka.
“Lihat, Aku berdiri di muka pintu dan mengetok; jikalau ada orang yang mendengar suara-Ku dan membukakan pintu, Aku akan masuk mendapatkannya dan Aku makan bersama-sama dengan dia, dan ia bersama-sama dengan Aku.”(Wahyu3:20).
Dan Dia juga tidak pernah menutup pintu hati-Nya untuk anak-anak-Nya yang ingin kembali ke rumah. “Aku tahu segala pekerjaanmu: lihatlah, Aku telah membuka pintu bagimu, yang tidak dapat ditutup oleh seorang pun. Aku tahu bahwa kekuatanmu tidak seberapa, namun engkau menuruti firman-Ku dan engkau tidak menyangkal nama-Ku.”(Wahyu 3:8). Dengan demikian, kemana arah hidup ditentukan, Allah yang mengarahkan dan manusia menjawab-Nya, jika seseorang percaya akan belas kasih Allah, maka mereka berjalan bersama-Nya dan suka cita dan damai akan dialirkan kepadanya.
“…dan setibanya di rumah ia memanggil sahabat-sahabat dan tetangga-tetangganya serta berkata kepada mereka: Bersukacitalah bersama-sama dengan aku, sebab dombaku yang hilang itu telah kutemukan.(Luk 15:6).
Didik, CM