PELITA HATI
Senin, 19 September 2022
Lukas 18:16-18
Yesus menyatakan dengan perumpamaan bahwa iman (relasi dengan Allah) pada hakekatnya seperti pelita yang cahayanya memancar keluar, dan bukan hanya menerangi dirinya sendiri tetapi menyinari untuk semua yang ada disekitarnya. “Tidak ada orang yang menyalakan pelita lalu menutupinya dengan tempayan atau menempatkannya di bawah tempat tidur, tetapi ia menempatkannya di atas kaki dian, supaya semua orang yang masuk ke dalam rumah dapat melihat cahayanya.”(Luk 8:16). Oleh karena itu, mereka yang percaya kepada Kristus sudah sepantasnya menunjukkan kepada masyarakat di dalam perbuatan buah-buah iman mereka. Buah-buah iman itu merupakan karya Roh Kudus yang menggerakkan manusia untuk melakukan kehendak Allah. “Tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri. Tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu.”(Galatia 5:22-23).
Dengan demikian, iman secara natural akan berbuah di dalam perbuatan. “Demikian juga halnya dengan iman: Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya adalah mati.”(Yakobus 2:17). Di dalamnya terdapat kekuatan yang besar, yaitu kasih Allah yang mendorong manusia untuk melakukan di dalam tindakan hal-hal yang baik dan benar. “Kasih tidak berbuat jahat terhadap sesama manusia, karena itu kasih adalah kegenapan hukum Taurat.”(Roma 13:10).
Bisa terjadi iman bagi sebagian orang tidak berbuah karena terhimpit oleh kekuatiran duniawi sehingga mereka terbelenggu segala urusannya sendiri atau terarik untuk memperkaya dirinya sendiri tanpa peduli dengan penderitaan sesama dan tidak peduli dengan nilai-nilai ; lingkungan hidup, kemanusiaan, keadilan, kebaikan, kebenaran, dan kasih persaudaran. “Yang ditaburkan di tengah semak duri ialah orang yang mendengar firman itu, lalu kekuatiran dunia ini dan tipu daya kekayaan menghimpit firman itu sehingga tidak berbuah.”(Mat 13:22). Oleh karena itu pelita iman akan bisa memancar dengan dengan baik jika masing-masing orang berani menata kembali hati dan pikirannya untuk berpaut dan bergantung hanya pada Allah saja.
Didik, CM