Renungan 6 November 2024
Fr. Albertus Medyanto, O.Carm
Lukas 14:25-33
Syarat dan ketentuan berlaku. Itulah pengumuman yang sering kita baca untuk perlombaan, kejuaraan, lowongan kerja dan lainnya. Syarat dan ketentuan berdasarkan pendidikan, keahlian, usia dan sebagainya.
Hari ini dalam Injil, Yesus di hadapan orang yang berduyun-duyun mengikuti perjalanan-Nya, Ia juga memberikan semacam syarat dan ketentuan yang berlaku.
Tanpa ketiga syarat ini mereka mengalami kesulitan menjadi pengikut-Nya. Apa saja syarat yang ditawarkan oleh Yesus?
Pertama, Yesus berkata,“Jikalau seorang datang kepada-Ku dan ia tidak membenci bapanya, ibunya, isterinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi murid-Ku.” (Luk 14:26). Setiap orang yang mau mengikuti Yesus diminta berani melepaskan diri dari ikatan kekeluargaan. Orang diajak mempunyai komitmen yang kuat hanya berpegang teguh pada Yesus, mengikuti-Nya sepenuh hati, segenap akal budi. Yesus tidak bermaksud memutus mata rantai sikap hormat pada orang tua atau keluarga, seperti yang tertulis dalam Perintah Allah keempat. Relasi dengan keluarga jangan sampai menghambat dan menghalangi relasi dengan Tuhan Yesus. Pusat perhatian dari seluruh pikiran, perasaan dan nyawa hanya ada pada Yesus. Komitmen ini perlu dibangun terus menerus dari waktu ke waktu.
Kedua, Yesus berkata, “Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak dapat menjadi murid-Ku.” (Luk 14:27). Setiap orang yang mau mengikuti Yesus dalam jalan iman, ia harus berani mengambil keputusan menyerupai hidup Yesus. Seperti halnya Yesus yang memikul salib-Nya, demikian pula halnya dengan diri kita berani memikul salib karena ajaran iman yang kita terima. Tidak semua ajaran Yesus dapat mudah kita pahami. Kita memikul salib karena berani percaya beriman kepada Yesus Tuhan kita. Kita memikul salib karena orang lain tidak memahami ajaran kasih-Nya. Inilah tuntutan dan sekaligus sikap berani kita menyerupai Tuhan Yesus.
Ketiga, Yesus berkata,“Demikian pulalah tiap-tiap orang di antara kamu, yang tidak melepaskan dirinya dari segala miliknya, tidak dapat menjadi murid-Ku.” (Luk 14:33). Yesus meminta kepada para pengikut-Nya mempunyai sikap lepas bebas dan tidak terikat dengan harta benda dunia. Bukan soal hartanya, melainkan sikap batin dan pikiran kita dalam memperlakukan harta tersebut. Bisa jadi selama ini kita menggenggam erat apa yang kita miliki (harta, orang, peristiwa hidup) sehingga tidak bisa lepas bebas tanpa kehadirannya. Baiklah kita belajar melepas sedikit demi sedikit genggaman erat itu sehingga kita tidak terfokus disana. Tuhan Yesus akan mengatur dan membantu kita dalam setiap peziarahan hidup ini. Kita berusaha berbagi kehidupan kepada sesama saudara. Seperti halnya Tuhan Yesus berbagi kehidupan bagi banyak orang demi tumbuhnya Kerajaan Allah.
Syarat dan ketentuan dari Tuhan Yesus berlaku untuk setiap orang yang percaya pada-Nya dan mau hidup bersama dengan-Nya. Hidup bersama Tuhan Yesus tanpa harus memperhitungkan untung dan rugi. Kita adalah orang-orang kudus yang sudah ditebus lewat darah kudus-Nya di kayu salib. Semoga kita mempunyai komitmen yang kuat percaya pada Tuhan Yesus sampai akhir peziarahan di dunia ini.
(rm. albertus medyanto, o.carm)