HIDUP DALAM HARAPAN
Renungan, 19 Desember 2024
Lukas 1:5-25
Oleh: Agustinus Suyadi, O.Carm
Berharap pada Tuhan tak pernah mengecewakan. Di masa tua, setelah sekian tahun berharap pada Tuhan, Zakharia dan Elisabet mendapatkan sukacita yang tak terkatakan. Mereka mendapatkan anak yang telah begitu lama dirindukan. Anak adalah tanda berkat Allah yang paling indah. Dari sudut ini marilah kita merenung sejenak.
(1) RAHMAT DAN AIB
Zakharia dan Elisabet melihat, bahwa hidup sempurna itu akibat berkat Tuhan. Tanpa berkat, seindah apapun hidup itu tetaplah dipandang aib. Dalam konteks zamannya, perkawinan tanpa anak adalah aib besar. Hal ini terbukti, setelah Elisabet mengandung, mereka begitu bahagia dan menyebut Tuhan menghapus aibnya. Perjalanan panjang tanpa lelah dengan setia mengabdi Tuhan, akhirnya dipandang dan disempurnakan oleh Tuhan. Kerinduan dan air mata mereka untuk mengalami berkat Tuhan sekarang telah diubah menjadi sukacita dan bahagia.
(2) JAWABAN DAN IMAN
Mengapa Zakharia menjadi bisu setelah mendengar kabar sukacita? Kitab Suci menulis, karena ia kurang percaya akan karya agung Tuhan. Baginya, mustahil istrinya mengandung di masa tuanya. Dari sisi logis, medis dan biologis jelas-jelas tidak mungkin terjadi. Barangkali, Zakharia juga sudah berada di ujung frustrasi, sehingga meragukan mukjizat yang bakal terjadi. Tetapi ia lupa, bahwa Tuhan bisa membuat segala-galanya. Di sinilah iman membutuhkan penyerahan total kepada Tuhan. Iman tanpa penyerahan adalah bisu.
(3) KEHENINGAN YANG MENYEMBUHKAN
Dari sudut pandang negatif, bisu adalah sebuah hukuman Tuhan atas ketidakpercayaan. Dari sisi positif, realita bisu adalah bentuk keheningan. Dalam kebisuan, Zakharia tetap bertekun dalam mengabdi Tuhan di rumah ibadat. Ia masuk dalam keheningan batin, sehingga mampu melihat dengan lebih tepat tindakan besar Tuhan. Maka, buah dari keheningan total ini, kelak Zakharia melihat secara nyata Yohanes dilahirkan dari istrinya. Lidah dan pita suaranya lantas disembuhkan dari kebisuan dan berganti mewartakan keindahan rahmat Tuhan.