MATI = ISTIRAHAT
Renungan, 25 Pebruari 2025
Markus 9:30-37
Oleh: Agustinus Suyadi, O.Carm
Mengapa kita seringkali mengucapkan “Semoga saudara kita beristirahat dalam damai” kepada mereka yang telah meninggal? Apa hubungan kematian dan istirahat?
- ISTIRAHAT DARI DERITA
Orang dikatakan beristirahat setelah dia bekerja keras. Kerja keras apa yang perlu kita lihat dalam konteks Injil hari ini? Kerja keras mengalahkan dosa dan setan. Umumnya, orang baik akan dijerat, dicela, dan dianiaya. Bahkan, harus menderita dan kemudian mati. Tetapi kematian orang benar, meski hidupnya penuh dengan derita ternyata akan bahagia. Yesus berkata, “Anak Manusia akan diserahkan ke dalam tangan manusia, dan mereka akan membunuh Dia, dan tiga hari sesudah Ia dibunuh Ia akan bangkit.”
- ISTIRAHAT DALAM KEMATIAN
Kematian disebut istirahat, karena masih adanya kehidupan lanjutan. Dari mana kita yakin akan adanya hidup setelah mati? Yesus telah membuktikan: setelah mati dan masuk kubur selama 3 hari, Ia bangkit dan hidup lagi. Kematian hanyalah sebuah istirahat untuk menunggu akhir zaman tiba. Saat itulah hidup yang diperjuangkan dengan kebenaran, tidak akan berakhir dengan kematian yang sia-sia. Jiwa manusia akan bersatu kembali dengan badannya yang telah mati.
- ISTIRAHAT DALAM HIDUP ABADI
Semua orang akan mengalami kematian sebagai tahap menuju kehidupan. Badannya masuk dalam kubur, tetapi jiwanya langsung diadili: yang suci akan masuk dalam ruang tunggu yang penuh damai abadi. Namun, karena manusia itu tak luput dari kesalahan dan dosa, maka ada jiwa akan masuk dalam sengsara. Untuk itulah, diperlukan tindakan silih, agar jiwa berpindah dari yang sengsara menuju ruang tunggu yang damai.