Renungan, 07 Maret 2025

Renungan, 07 Maret 2025

Matius 9:14-15

Oleh: Agustinus Suyadi, O.Carm

PUASA DAN MEMPELAI

Yesus berbicara tentang PUASA yang dikaitkan dengan MEMPELAI. Ketika mempelai itu ada bersama kita, puasa tidak berlaku. Yang ada hanyalah sukacita pesta. Begitu mempelai tidak bersama lagi, saat itulah diperlukan puasa. Bagaimana hal ini bisa dimaknai?

  1. SANG MEMPELAI

Lewat sabda hari ini, Yesus menunjuk pada diri-Nya sendiri sebagai mempelai laki-laki. Dan kita, umat-Nya adalah mempelai perempuan. Kita dan Yesus satu dalam kasih yang tak tergantikan. Kasih yang begitu mendalam seperti kasih suami dan istri.

Dengan gambaran ini, Yesus hendak menunjukkan hasrat cinta Allah yang ingin bersatu dengan manusia. Demikian halnya, dalam hati manusia tersemat cita-cita hidup rohani, yakni mencapai kekudusan, sehingga dipersatukan dengan Sang Mempelai.

  • BERPUASA

Meski terdapat hasrat Allah dan juga cita-cita manusia, namun dosa telah menjadi penghalang yang memisahkan kedua hasrat itu. Rahmat Allah yang begitu besar tidak menembus hati nurani manusia. Bahkan, manusia sulit melihat kebaikan dan cinta Allah.

Di sinilah puasa ditempatkan. Untuk bisa merasakan getaran cinta Allah, manusia mesti dibebaskan dari dosa dan kesalahan. Berpuasa adalah cara jitu untuk kembali kepada Sang Mempelai dengan meninggalkan keterikatan akan dosa dan kecenderungan jahat.

  • BUKAN SOAL JASMANI

Dengan cara pandang mempelai, berpuasa bukan semata-mata tidak makan dan tidak minum. Puasa adalah tindakan jasmani yang mengekspresikan olah rohani, agar bisa bersatu dengan Allah. Maka, puasa itu begitu ringan, indah, dan enak, karena kita sedang merindukan kesatuan dengan Sang Mempelai, yakni Allah.

Akhirnya, puasa bersentuhan erat dengan salib. Kita berpuasa seraya merenungkan salib atau bahkan belajar memikul salib. Karena dengan cara itu, kita akan semakin mengerti dan memahami betapa kuat-Nya cinta Allah, Sang Mempelai kepada kita.

Comments are closed.
Translate ยป