“Coba dan Rasakan Dulu”

“Coba dan Rasakan Dulu”

Rm Yusuf Dimas Caesario

Bayangkan Anda sedang berada di sebuah restoran mewah. Anda memesan makanan, dan ketika hidangan datang, Anda berkata kepada pelayan, “Tolong buktikan dulu bahwa makanan ini enak. Saya mau bukti bahwa ini benar-benar layak dimakan.” Pelayan pun bingung. Bagaimana caranya membuktikan rasa makanan tanpa Anda mencicipinya? Akhirnya, pelayan itu hanya bisa berkata, “Cobalah dulu, baru Anda tahu.”

Nah, dalam hidup rohani, kita sering bersikap seperti itu. Kita meminta “tanda” dari Tuhan: “Tuhan, kalau Engkau benar-benar ada, tunjukkanlah mukjizat!” atau “Tuhan, kalau Engkau mengasihiku, berikanlah aku pekerjaan yang lebih baik!” Padahal, seperti makanan di restoran itu, iman butuh dicicipi, dirasakan, dan dialami, bukan hanya dilihat dari “tanda”-nya.

Refleksi:

Yesus dalam bacaan ini sedang menghadapi orang-orang yang terus meminta tanda. Mereka sudah melihat Yesus menyembuhkan orang sakit, mengusir setan, dan bahkan membangkitkan orang mati. Tapi tetap saja, mereka ingin “tanda” lagi. Yesus pun berkata, “Tidak akan diberikan tanda selain tanda Yunus.” Apa maksudnya?

Tanda Yunus merujuk pada peristiwa Yunus yang berada di dalam perut ikan selama tiga hari, lalu pergi ke Niniwe untuk memberitakan pertobatan. Tanda ini juga menunjuk pada kebangkitan Yesus setelah tiga hari dalam kubur. Yesus ingin mengatakan, “Aku adalah tanda terbesar. Kebangkitan-Ku adalah bukti tertinggi. Percayalah!”

Tapi, seperti orang-orang di restoran tadi, kita sering kali masih meminta tanda tambahan. “Tuhan, berikan aku satu tanda lagi, baru aku percaya.” Padahal, Yesus sudah memberikan diri-Nya sendiri sebagai tanda terbesar. Kebangkitan-Nya adalah bukti nyata kasih dan kuasa-Nya.

  1. Iman yang Melampaui Tanda:        
    Iman sejati tidak selalu membutuhkan tanda mukjizat. Iman adalah percaya meskipun kita tidak melihat. Seperti kata Santo Agustinus, “Credo ut intelligam” (Aku percaya supaya aku mengerti). Percaya dulu, baru kita akan mengerti.
  2. Respons yang Tepat:          
    Ratu Selatan datang dari jauh untuk mendengarkan hikmat Salomo, dan orang Niniwe bertobat setelah mendengar pemberitaan Yunus. Mereka merespons dengan iman dan pertobatan. Bagaimana dengan kita? Apakah kita merespons firman Tuhan dengan serius, atau kita masih sibuk meminta tanda?
  3. Tanda Terbesar: Yesus Sendiri:     
    Yesus lebih besar dari Salomo dan Yunus. Kebangkitan-Nya adalah tanda terbesar kasih dan kuasa Allah. Mari kita mengakui kehadiran-Nya dalam hidup kita dan merespons dengan iman yang tulus.

Doa:

Tuhan Yesus, sering kali kami meminta tanda dari-Mu, padahal Engkau sudah memberikan diri-Mu sendiri sebagai tanda terbesar. Ampuni kami jika kami kurang percaya. Bantulah kami untuk memiliki iman yang tulus, yang tidak selalu membutuhkan tanda untuk percaya. Ajarlah kami untuk menanggapi firman-Mu dengan hati yang terbuka dan siap bertobat. Terima kasih untuk kehadiran-Mu dalam hidup kami, yang lebih besar dari segala hikmat dan mukjizat. Amin.

Comments are closed.
Translate »