Minggu Adven IV A

Minggu Adven IV A


(Yes. 7:10-14; Rm. 1:1-7; Mat. 1:18-24)
Rm. Yohanes Endi, Pr.
Saudara-saudariku terkasih, minggu lalu kita merenungkan tema Gaudete, bersukacitalah. Sukacita itu harus terus hadir dalam hidup kita, sebab sukacita kita berada dalam Tuhan. Minggu ini kita merenungkan kisah tentang awal karya keselamatan yang hadir melalui Bunda Maria dan Yusuf suaminya. Kisah ini mengantar kita untuk memasuki pesta kelahiran Tuhan Yesus yang akan kita rayakan pada minggu depan. Fokus kita pada Emmanuel, Allah beserta kita.
Natal sudah dekat. Pastinya kita mulai disibukkan dengan berbagai hal untuk mempersiapkan perayaan itu dengan sebaik mungkin. Sudah sejak tiga minggu lalu kita merenungkan bagaimana menyiapkan hati kita untuk menjadi palungan Tuhan Yesus lahir. Ketika Tuhan Yesus lahir di dalam palung hati kita, kita pasti bersukacita dan ingin membagi sukacita itu kepada orang-orang yang kita kasihi, keluarga, sahabat dan kenalan kita. Kita mulai mengatur kapan waktu untuk makan bersama. Yang di kota mulai membeli baju baru, pesan kue natal, pesan tempat makan di restoran, dll. Yang di kampung halaman mulai menangkap dan mengurung ayam, babi, sapi, dll., untuk dipotong pada perayaan Natal nanti. Anak-anak muda mulai memikirkan kejutan hadiah untuk teman-teman atau kekasihnya. Komunitas para Suster dan Bruder mulai sibuk mengirim kartu ucapan-ucapan selamat Natal, bahan triduum, dll. Kelompok paduan suara mulai gladi bersih dalam satu dua hari ini untuk mempersembahkan suara terbaik pada perayaan Natal nanti. Panitia-panitia natal juga sibuk membuat tenda, kandang Natal, lampu kelap-kelip, dan masih banyak lagi dipersiapkan dalam minggu ini. Singkatnya, Natal sudah dekat dan kita akan rayakan dengan sukacita.
Saudara-saudariku terkasih, dalam bacaan Injil Minggu ini, malaikat berpesan kepada Yusuf untuk menamai anak yang akan lahir itu sebagai Emmanuel, Allah
beserta kita. Sesuai dengan namaNya, Tuhan Yesus dalam perutusanNya di dunia ini telah menunjukkan bahwa Allah itu ada, dekat, menyertai kita. Dalam diri Yesus kita menemukan sosok Allah yang penuh kasih, yang peduli, yang selalu menghendaki agar umatNya bahagia, sejahtera, selamat. Seperti pesanNya kepada para murid, “lihatlah, aku-bersama-kamu sampai akhir zaman”, mau menggambarkan betapa Allah itu sangat dekat dengan kita para muridNya, orang-orang yang Dia kasihi.
Kehadiran Yesus di antara manusia dimulai di Betlehem dan tidak akan pernah berakhir hingga sekarang bahkan sampai akhir zaman. Dari kata Emmanuel ini, mau menunjukkan bahwa Tuhan tidak tinggal di surga yang begitu jauh di sana, yang hanya melihat dan siap penghukum, melainkan Dia datang di antara kita, untuk kita, Dia bahkan menjadi salah satu dari kita dalam diri Yesus itu. Dia memeluk dan merasakan apa yang kita rasakan di dunia ini, kecuali dalam hal dosa.
Saudara-saudariku terkasih, Natal sudah dekat. Kita yang sudah membersihkan diri melalui Sakramen Tobat, sudah selayaknya bersukacita menyambut kedatangan Tuhan Yesus di hati kita, di dalam rumah kita, komunitas kita, yang terpancar dalam kata dan senyuman yang menyejukkan. Itulah arti sesungguhnya dari Emmanuel, Allah beserta kita. Sekarang, tidak ada lagi alasan untuk bersedih karena merasa disalahpahami, ditinggalkan, sendirian, dll. Mari kita menyerukan di dalam hidup kita, Emmanuel, Tuhan beserta kita. Dan, di kedalaman hati kita, “Tuhanku besertaku”. Dengan harapan, ketika kita menyerukan, “Tuhan berserta kita”, hati, pikiran, perkataan, perbuatan, sikap dan senyuman dalam diri kita akan terpancar jelas sehingga Tuhan Yesus yang hidup di dalam diri kita, akan dikenal oleh orang-orang di luar sana. Inilah saksi Kristus, dimana kita mampu memancarkan Krstus yang penuh kasih dan kelembutan itu kepada semua orang. Selamat memasuki persiapan-persiapan perayaan Natal. Tuhan Yesus memberkati. Amin.

Comments are closed.
Translate »