“IMAN BERTUMBUH DALAM KEHENINGAN DAN DI LUAR PREDIKSI”

“IMAN BERTUMBUH DALAM KEHENINGAN DAN DI LUAR PREDIKSI”

Jumat, 30 Januari 2026

Markus 4:26-34

Bacaan dari Markus 4:26-34 membawa kita pada dua perumpamaan yang sangat organik: Biji yang Tumbuh dan Biji Sesawi. Keduanya memberikan perspektif yang kontras dengan hiruk-pikuk dunia yang menuntut hasil instan dan kontrol penuh.

​1. Kerajaan Allah: Tumbuh Saat Kita “Tidur”

​Dalam ayat 27 dikatakan bahwa penabur itu tidur pada malam hari dan bangun pada siang hari, sementara tunas itu mengeluarkan pucuk dan tumbuh, “tanpa diketahui orang itu.” ​Seringkali kita merasa bahwa kitalah penentu utama keberhasilan hidup, pekerjaan, atau pelayanan kita. Namun, Sabda hari ini mengingatkan bahwa ada dinamika ilahi yang bekerja di bawah permukaan dalam keheningan dan waktu istirahat kita. ​Keheningan adalah Ruang Kerja Tuhan: Seperti benih di dalam tanah, Kerajaan Allah tidak butuh panggung atau sorak-sorai untuk menjadi nyata. Ia tumbuh dalam doa-doa yang sunyi dan kesetiaan yang tak terlihat. Satu permenungan yang membawa kita untuk ​melepaskan kontrol dalam hidup. Kita dipanggil untuk setia menabur, tetapi kita juga harus berani “tidur”, artinya percaya penuh bahwa Tuhan sedang bekerja saat kita tidak bisa melihat apa-apa.

​2. Di Luar Prediksi: Dari yang Terkecil Menjadi yang Terbesar

​Perumpamaan biji sesawi (ayat 31-32) menekankan kontras yang tajam. Biji sesawi adalah yang paling kecil, tetapi saat tumbuh, ia menjadi lebih besar daripada sayuran lainnya. ​Ini adalah teguran bagi logika manusia yang sering kali menilai sesuatu hanya dari ukuran awalnya. Ada pergumulan antara ​rencana manusia vs realitas Ilahi. Rencana kita mungkin hanya membayangkan sebuah tanaman kecil yang rapi, tetapi Tuhan memberikan “pohon” dengan cabang-cabang besar tempat burung bersarang. Ada kejutan Kasih Karunia di sana. Kerajaan Allah tidak selalu mengikuti grafik linier yang kita buat di atas kertas. Ia sering kali melampaui prediksi, membawa kita ke situasi atau pelayanan yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya.

​3. Menemukan Ketenangan di Tengah Ketidakpastian

​Jika pertumbuhan terjadi secara misterius dan hasilnya sering di luar kendali kita, lantas apa bagian kita? ​Sabar (Patience): Menunggu tanah melakukan tugasnya (ayat 28: “Bumi dengan sendirinya mengeluarkan buah”). ​Ketenangan (Quietness): Berhenti merasa cemas tentang “kapan” dan “bagaimana” hasilnya akan terlihat. ​Keterbukaan (Openness): Siap menerima hasil yang mungkin berbeda dari rencana awal kita, selama itu menjadi berkat (tempat bersarang) bagi orang lain. Marilah kita tetap yakin bahwa Tuhan beserta kita.

(RD Daniel Aji Kurniawan – Imam Diosesan Keuskupan Malang)

Comments are closed.
Translate »