Minggu Prapaskah IIA

Minggu Prapaskah IIA


(Kej. 12:1-4a, 2Tim. 1:8b-10; Mat. 17:1-9)
Rm. Yohanes Endi, Pr.
Saudara-saudariku terkasih minggu lalu kita diajak masuk ke padang gurun bersama Yesus, menyaksikan bagaimana Ia menghadapi godaan dengan berpaling sepenuhnya kepada Bapa. Prapaskah memang selalu membawa kita ke padang gurun, tempat sunyi, tempat pergulatan, tempat kejujuran hati. Namun minggu ini, Gereja membawa kita naik ke gunung. Dari padang gurun kita diajak mendaki, dari pergulatan menuju penyingkapan kemuliaan.
Dalam Injil hari ini, Yesus mengajak Petrus, Yakobus, dan Yohanes naik ke sebuah gunung yang tinggi. Di sana, ketika Ia berdoa, wajah-Nya bercahaya seperti matahari dan pakaian-Nya menjadi putih berkilau. Lalu tampaklah Musa dan Elia bercakap-cakap dengan Dia. Dan terdengarlah suara dari awan, “Inilah Anak yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan, dengarkanlah Dia.”
Peristiwa ini begitu agung, misterius, mungkin terasa jauh dari pengalaman kita sehari-hari. Namun justru di situlah rahmatnya, Allah sesekali membuka sedikit tabir kemuliaan-Nya, agar kita tidak kehilangan arah ketika harus berjalan dalam lembah penderitaan.
Yesus dimuliakan bukan untuk menghindari salib, melainkan untuk meneguhkan para murid sebelum mereka menyaksikan penderitaan-Nya. Cahaya Tabor adalah persiapan menuju Golgota. Seperti seorang ayah yang menguatkan anaknya sebelum perjalanan panjang, Bapa memperlihatkan kemuliaan Putra-Nya agar para murid tidak goyah ketika nanti melihat-Nya disalibkan.
Saudara-saudariku terkasih, bacaan pertama menghadirkan sosok Abraham. Tuhan berfirman kepadanya: “Pergilah dari negerimu, dari sanak saudaramu, dari rumah bapamu, ke negeri yang akan Kutunjukkan kepadamu.” Abraham tidak diberi peta atau bahasa sekarang share loc. Tidak ada kepastian tentang jarak, waktu, atau risiko. Yang ada hanyalah janji dan suara Tuhan, namun Abraham tetap pergi.
Di sini kita melihat benang merah yang indah antara bacaan pertama dan Injil. Abraham dipanggil untuk meninggalkan kampung halamannya, para murid dipanggil untuk naik ke gunung. Demikian juga kita pun dipanggil untuk berani melangkah melampaui kenyamanan kita.
Saat masih frater saya senang naik gunung di seputar Malang bersama con frater lainnya. Memang saat mendaki terasa lelah, kehausan, ingin berhenti. Namun saat berada di atas gunung seolah semuanya terbayar karena begitu mengagumkan. Tentu,
gunung dalam Injil bukan sekadar tempat geografis. Gunung adalah lambang kedekatan dengan Allah. Abraham meninggalkan zona aman, para murid meninggalkan keramaian, dan di situ Allah menyatakan rencana-Nya.
Musa dan Elia yang hadir dalam peristiwa transfigurasi melambangkan Hukum dan Para Nabi. Artinya, seluruh Perjanjian Lama, menemukan kepenuhannya dalam diri Yesus. Jika Abraham adalah awal perjalanan iman, maka Yesus adalah puncaknya. Jika Abraham berjalan dalam iman menuju janji, maka dalam Yesus janji itu menjadi nyata dan universal, yakni keselamatan bagi semua bangsa.
Bacaan kedua dari Rasul Paulus memperdalam maknanya. Paulus berkata bahwa Allah “menyelamatkan dan memanggil kita dengan panggilan kudus, bukan berdasarkan perbuatan kita, melainkan berdasarkan maksud dan kasih karunia-Nya.” Panggilan Abraham bukan karena jasanya. Kemuliaan Yesus bukan untuk pamer kekuasaan. Dan keselamatan kita pun bukan hasil prestasi rohani kita, melainkan semuanya adalah rahmat Allah.
Saudara-saudariku terkasih, mungkin kita bisa membayangkan hidup ini seperti perjalanan malam. Ketika berjalan dalam gelap, kita sering hanya bisa melihat beberapa langkah ke depan. Kita tidak melihat seluruh jalan. Tetapi cukup ada satu lampu kecil, kita berani melangkah. Transfigurasi adalah seperti lampu kecil itu. Allah tidak menunjukkan seluruh rencana-Nya sekaligus, tetapi Ia memberi cukup terang agar kita tidak berhenti berjalan.
Dalam kehidupan kita, ada saat-saat “Tabor”, yakni saat doa terasa hangat, saat pelayanan membuahkan sukacita, saat keluarga dipenuhi damai, yang dalam bahasa rohani disebut konsolasi. Tetapi ada juga saat-saat “Golgota”, yakni saat kita mengalami sakit, kekecewaan, konflik, kehilangan, orang yang kita cintai, dan seterusnya. Dalam masa retret agung ini kita tidak hanya mengalami konsolasi atau Tabor. Saat konsolasi bisa jadi kita seperti Petrus, “Tuhan, betapa bahagianya kami berada di tempat ini.” kalau hanya bahagia tidak maslah, tetapi untuk tetap tinggal di sana tidak bisa. Yesua mengingatkan kita bahwa kita harus turun, kembali ke dunia nyata, membawa terang itu dalam kesetiaan sehari-hari.
Di sinilah pesan bacaan kedua menjadi sangat konkret, dimana kita dipanggil untuk ikut ambil bagian dalam karya keselamatan itu. Artinya, kita dipanggil untuk menjadi berkat. Seperti Abraham yang dipanggil agar “olehnya semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat,” demikian pula kita diutus untuk membawa berkat. Kalimat, ‘Dan olehmu semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat’, menjadi motto tahbisan saya 13 tahun lalu. Bagi saya, itu bukan sekadar kalimat indah, melainkan arah hidup: menjadi saluran, bukan pusat; menjadi jembatan, bukan tembok. Konsekuensinya, saya harus terus berusaha agar berarti bagi yang lain, menjadi berkat bagi yang lain.
Tentu, menjadi berkat tidak selalu berarti melakukan hal besar. Kadang menjadi berkat berarti menjadi pendengar yang sabar. Kadang berarti menahan diri untuk tidak melukai dengan kata-kata. Kadang berarti setia dalam tugas kecil yang tidak terlihat. Seperti cahaya kecil di tengah malam, kehadiran kita yang tulus bisa menjadi penuntun bagi orang lain.
Dan saya percaya, panggilan itu bukan hanya untuk seorang imam. Itu panggilan bagi setiap orang yang telah dibaptis. Hidup kita akan menemukan maknanya bukan ketika kita mencari untuk dihormati, tetapi ketika kita berani menjadi berkat. Bukan ketika kita menuntut untuk dimengerti, tetapi ketika kita berusaha memahami. Bukan ketika kita membatasi kasih pada kelompok tertentu, tetapi ketika kita membuka hati bagi semua orang.
Hari ini Allah Bapa kembali berkata kepada kita, “Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, dengarkanlah Dia.” Mendengarkan Yesus berarti berjalan dalam iman seperti Abraham. Mendengarkan Yesus berarti berani turun dari gunung untuk memanggul tanggung jawab. Mendengarkan Yesus berarti percaya bahwa di balik salib selalu ada kebangkitan.
Semoga dalam perjalanan Prapaskah ini, kita diberi keberanian untuk melangkah, meski belum melihat seluruh jalan, kesetiaan untuk tetap percaya, meski belum memahami seluruh rencana, dan kerendahan hati untuk menjadi berkat bagi siapa pun yang Tuhan percayakan dalam hidup kita. Tuhan memberkati kita semua. Amin.

Comments are closed.
Translate »