RENUNGAN: 14 APRIL 2026
Rm. Ignasius Joko Purnomo
Yohanes 3:7-15
Saudara-saudari terkasih.
Di zaman sekarang kita terbiasa berpikir secara rasional: mempertimbangkan data, logika, dan bukti sebelum mengambil keputusan. Sikap ini tentu baik dan membantu dalam banyak hal, tetapi tanpa kita sadari, cara berpikir ini juga meresap ke dalam hidup beriman kita. Kita ingin memahami segalanya tentang Tuhan terlebih dahulu, baru kemudian mau percaya. Injil hari ini mengajak kita untuk melihat kembali: apakah iman kita masih memberi ruang bagi misteri Allah yang melampaui logika manusia?
Dalam Injil hari ini, kita berjumpa dengan seorang tokoh yang sangat menarik, yaitu Nikodemus. Ia bukan orang sembarangan. Ia seorang Farisi, seorang pemimpin agama, orang yang terpelajar, terbiasa berpikir logis dan sistematis. Namun justru di sinilah letak pergumulannya. Ketika Yesus Kristus berbicara tentang “dilahirkan kembali”, Nikodemus kebingungan. Ia mencoba memahami dengan logikanya: Bagaimana mungkin seseorang masuk kembali ke rahim ibunya? Pertanyaan itu sebenarnya jujur. Tapi juga menunjukkan keterbatasan cara berpikir manusia.
Saudara-saudari terkasih, Nikodemus mewakili kita semua. Sering kali kita juga seperti dia: kita ingin semuanya jelas dulu, kita ingin semua masuk akal dulu, kita ingin semua bisa dijelaskan dulu… baru setelah itu kita mau percaya. Padahal, dalam hidup iman, jalannya sering justru sebaliknya: percaya dulu, baru perlahan mengerti. Mengapa? Karena Allah adalah misteri. Dan misteri tidak bisa sepenuhnya diperas masuk ke dalam logika manusia yang terbatas.
Di sinilah kita diingatkan oleh Santo Agustinus dengan kata-katanya yang terkenal: “Crede ut intelligas” – “Percayalah supaya engkau mengerti.” Artinya, iman bukanlah hasil akhir dari pemahaman, tetapi justru pintu masuk menuju pengertian. Ini sangat sejalan dengan pengalaman Nikodemus: ia ingin mengerti dulu, padahal Yesus mengajak untuk percaya terlebih dahulu. Iman membuka mata hati yang tidak bisa dijangkau oleh logika semata.
Coba kita refleksikan sejenak: Ketika kita mengalami penderitaan, kita sering bertanya: “Kenapa Tuhan izinkan ini terjadi?” Ketika doa kita belum dikabulkan, kita bertanya: “Apakah Tuhan benar mendengarkan?” Ketika jalan hidup terasa gelap, kita ingin kepastian: “Ke mana arah hidupku?” Dalam situasi seperti itu, kita sering menuntut: “Tuhan, jelaskan dulu… baru saya percaya.” Tetapi Yesus hari ini seakan berkata: “Percayalah dulu… maka engkau akan melihat.”
Saudara-saudari terkasih.
Iman bukan berarti kita berhenti berpikir. Gereja tidak pernah menolak akal budi. Tetapi iman mengajak kita melangkah lebih jauh: bukan hanya memahami, tetapi juga mempercayakan diri. Seperti seorang anak kecil yang percaya pada orang tuanya. Seorang anak tidak selalu mengerti: mengapa ia harus pergi ke sekolah, mengapa ia tidak boleh melakukan ini atau itu. Namun ia percaya, karena ia tahu orang tuanya mengasihi dia. Demikian juga dengan kita di hadapan Tuhan.
Saudara-saudari terkasih,
Nikodemus datang kepada Yesus pada malam hari – dalam kegelapan, dalam kebingungan. Namun itu bukan akhir ceritanya. Perlahan-lahan, imannya bertumbuh. Ia akhirnya berani tampil dan menunjukkan imannya kepada Yesus. Demikian juga kita. Kita mungkin datang kepada Tuhan dengan banyak pertanyaan. Itu tidak apa-apa. Tetapi jangan berhenti pada pertanyaan. Melangkahlah dalam iman. Karena dalam hidup kristiani, kita tidak dipanggil untuk mengerti segalanya, tetapi untuk percaya kepada Dia yang mengerti segalanya.