Minggu Paskah VA
(Kis. 6:1-7; 1 Ptr. 2:4-9; Yoh. 14:1-12)
Rm. Yohanes Endi, Pr.
Saudara-saudariku terkasih dalam Kristus, pada Minggu Paskah kelima ini, kita
mendengar sabda yang sangat dalam sekaligus meneguhkan hati, “Janganlah gelisah
hatimu… Akulah jalan, kebenaran, dan hidup.” Sabda ini diucapkan Yesus bukan
dalam situasi tenang, tetapi justru ketika para murid sedang mengalami kegelisahan.
Mereka mulai merasakan bahwa perpisahan dengan Guru mereka semakin dekat.
Hati mereka dipenuhi pertanyaan, ketakutan, dan ketidakpastian. Namun justru di
tengah kegelisahan itulah Yesus tidak memberi penjelasan panjang lebar tentang
masa depan, melainkan memberikan diri-Nya sendiri. Ia tidak berkata, “Aku akan
menunjukkan jalan,” tetapi “Akulah jalan.” Ini sangat penting. Sebab sering kali yang
kita cari dalam hidup adalah jawaban, padahal yang lebih kita butuhkan adalah Pribadi
yang dapat menuntun kita.
Bayangkan seorang anak kecil yang sedang berjalan di tempat asing. Ia mungkin
tidak mengerti arah, tidak memahami peta, bahkan tidak tahu tujuan akhirnya. Tetapi
selama ia menggenggam tangan ayahnya, ia tetap tenang. Mengapa? Karena baginya
yang terpenting bukan mengetahui seluruh jalan, tetapi mengetahui bersama siapa ia
berjalan. Demikian pula hidup iman kita. Banyak orang gelisah karena ingin tahu
semuanya, ingin tahu masa depannya nanti bagaimana, pelayanan ini akan ke mana,
keluarga akan seperti apa, kesehatan akan bertahan sampai kapan, dan seterusnya.
Tetapi Yesus berkat, “Pegang Aku. Ikut Aku. Bersama-Ku engkau tidak akan tersesat.”
Yesus adalah jalan, bukan sekadar petunjuk arah. Jalan itu bukan teori, melainkan
relasi hidup dengan Kristus.
Lalu Yesus berkata, “Akulah kebenaran.” Dalam dunia kita hari ini, kebenaran
sering kali menjadi kabur. Orang bisa tersenyum di depan, tetapi menyimpan luka atau
kepalsuan di belakang. Tidak sedikit orang tampak kuat di luar, padahal batinnya
rapuh. Dalam situasi seperti ini, Yesus hadir sebagai kebenaran sejati. Kebenaran
dalam Yesus bukan sekadar benar menurut logika, tetapi benar karena penuh
kesetiaan, ketulusan, dan kasih. Pada diri-Nya tidak ada sandiwara, tidak ada
kepalsuan. Apa yang Dia katakan, itulah yang Dia hidupi. Apa yang Dia janjikan, itulah
yang Dia tepati. Maka ketika kita mendasarkan hidup pada Kristus, kita tidak sedang
berdiri di atas sesuatu yang rapuh, tetapi di atas dasar yang kokoh.
Dan akhirnya Yesus berkata, “Akulah hidup.” Setiap manusia tentu ingin hidup.
Tetapi sering kali kita keliru memahami hidup. Banyak orang mengira hidup berarti
memiliki banyak hal, banyak uang, jabatan, kenyamanan, atau pengakuan. Padahal
kita tahu, tidak sedikit orang yang memiliki semuanya, tetapi hatinya tetap kosong.
Yesus mengajarkan bahwa hidup sejati bukan pertama-tama soal berapa lama kita
hidup, melainkan dengan siapa kita hidup. Hidup sejati adalah hidup yang bersumber
dari Allah. Itulah sebabnya Yesus datang bukan sekadar memperpanjang umur
manusia, tetapi memberikan hidup ilahi, hidup yang penuh damai, penuh makna, dan mengarah pada keselamatan kekal.
Bacaan pertama hari ini juga memberi contoh yang indah. Ketika jemaat perdana menghadapi persoalan, para rasul tidak tenggelam dalam keluhan atau konflik. Mereka mencari jalan yang benar, bertindak dengan hikmat, dan akhirnya kehidupan Gereja justru semakin berkembang. Ini menunjukkan bahwa ketika Kristus menjadi pusat, persoalan tidak selalu hilang, tetapi selalu menemukan arah penyelesaiannya.
Saudara-saudariku terkasih, mungkin hari-hari ini ada di antara kita yang sedang gelisah, entah karena sendang memikirkan keluarga, pelayanan, studi, kesehatan, masa depan, atau panggilan hidup. Hari ini Yesus tidak langsung menghapus semua masalah itu, tetapi Ia berkata lembut kepada kita, “Jangan gelisah hatimu.” Mengapa? Karena Dia adalah jalan ketika kita bingung, Dia adalah kebenaran ketika kita ragu, dan Dia adalah hidup ketika hati kita terasa lelah.
Dalam setiap perayaan Ekaristi, kita tidak hanya mendengar tentang Yesus, tetapi sungguh berjumpa dengan-Nya. Dalam Tubuh dan Darah-Nya, Kristus hadir untuk menguatkan perjalanan kita. Ia menggenggam tangan kita, menuntun langkah kita, dan mengingatkan bahwa rumah Bapa sudah dipersiapkan bagi kita.
Maka pertanyaannya sekarang bukan, “Apakah saya tahu seluruh jalan hidup saya?” Tetapi, “Apakah saya sungguh berjalan bersama Yesus?” Sebab orang yang berjalan bersama Kristus mungkin tidak selalu mengerti semuanya, tetapi ia tidak akan pernah berjalan sendirian. Semoga di tengah segala pergumulan hidup, kita tetap berani percaya kepada Kristus, Sang Jalan, Sang Kebenaran, dan Sang Hidup. Dan melalui hidup kita, semoga orang lain juga dapat menemukan jalan menuju Allah. Tuhan memberkati kita semua. Amin.