RENUNGAN: 5 Mei 2026

RENUNGAN: 5 Mei 2026

Rm. Ignasius Joko Purnomo

Yohanes 14:27-31a

Saudara-saudari terkasih dalam Kristus,

Kita hidup di dunia yang sangat sibuk mengejar “damai”. Orang berpikir damai itu berarti tidak ada masalah, hidup nyaman, keuangan stabil, relasi harmonis, tubuh sehat. Maka kita bekerja keras, berjuang, bahkan kadang mengorbankan nilai-nilai demi mencapai apa yang kita kira sebagai “damai”. Namun, kita tahu dari pengalaman: semua itu rapuh. Hari ini kita merasa aman, besok bisa berubah. Hari ini kita tenang, besok bisa cemas lagi. Damai yang ditawarkan dunia selalu tergantung pada keadaan. Dan karena keadaan selalu berubah, damai itu pun tidak pernah benar-benar menetap.

Dalam Injil hari ini, Yesus berkata: “Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu; damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang   diberikan oleh dunia kepadamu.” Ini adalah salah satu janji paling indah, tetapi juga paling sering disalahpahami. Yesus menawarkan sesuatu yang berbeda. Ia berkata: “Damai sejahtera-Ku.” Artinya, ini adalah damai milik-Nya sendiri, damai yang berasal dari hubungan-Nya dengan Bapa. Damai yang tidak tergantung situasi. Damai yang tetap ada bahkan di tengah penderitaan. Bukan karena hidup mudah, tetapi karena hati bersandar pada Allah.

Saudara-saudari,

Sering kali kita tanpa sadar mencari damai di tempat yang salah. Kita berpikir: “Kalau saya punya cukup uang, saya akan tenang. Kalau orang lain menghargai saya, saya akan damai. Kalau hidup saya nyaman, saya akan bahagia.” Tidak ada yang salah dengan semua itu. Tetapi masalahnya adalah kalau kita menjadikannya sumber utama damai. Dan di situlah letak kekeliruannya. Karena ketika uang berkurang, kita gelisah. Ketika pengakuan hilang, kita merasa tidak berharga. Ketika kenyamanan terganggu, kita marah dan kecewa. Artinya, damai kita bergantung pada hal-hal yang tidak stabil, bergantung pada situasi dan keadaan diri luar diri kita.

Hari ini Yesus mengundang kita untuk berpindah: dari damai dunia menuju damai Kristus. Lalu bagaimana kita dapat memperoleh damai itu? Pertama, dengan percaya dan menyerahkan diri kepada Tuhan. Kegelisahan sering muncul karena kita ingin mengontrol segalanya. Kita ingin hidup berjalan sesuai rencana kita. Tetapi realitas tidak selalu demikian. Damai Kristus datang ketika kita berani berkata: “Tuhan, aku tidak mengerti semuanya, tetapi aku percaya Engkau memegang hidupku.” Kedua, dengan tinggal dalam relasi dengan Kristus. Damai bukan sekadar perasaan, tetapi buah dari kedekatan dengan Tuhan. Dalam doa, dalam Ekaristi, dalam Sabda, kita diingatkan bahwa kita tidak sendirian. Kehadiran Tuhan itulah yang menenangkan hati. Ketiga, dengan mengubah fokus hidup kita. Kalau kita terus fokus pada kekurangan, masalah, dan ketakutan, hati kita akan mudah gelisah. Tetapi jika kita belajar melihat hidup dengan iman – bahwa Tuhan bekerja dalam segala sesuatu – kita akan menemukan ketenangan yang lebih dalam.

Saudara-saudari terkasih, mari kita berdoa dalam hati: “Tuhan Yesus, sering kali aku mencari damai di tempat yang salah. Aku menggantungkan hatiku pada hal-hal yang sementara. Hari ini aku datang kepada-Mu. Berikanlah aku damai-Mu, damai yang tidak tergantung keadaan, damai yang menguatkan di tengah kesulitan. Ajarlah aku untuk percaya dan bersandar kepada-Mu. Amin”

Semoga Tuhan memberkati kita semua.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Translate »