Hidup yang berbuah
RP Hugo Susdiyanto O.Carm
Yohanes 15:1-8
Rabu, 6 Mei 2026
Dalam suatu retret yang saya ikuti, pembimbing meminta peserta untuk menggambarkan relasi pribadi dengan Allah. Saya menggambar seorang petani. Ketika konsultasi pembimbing bertanya kepada saya mengapa anda menggambar petani. Saya menjawab seperti petani dengan tanaman yang ia tanam relasi saya dengan Allah. Seorang petani pasti dengan sabar merawat yang ia tanam, demikian pula Allah merawat saya dengan penuh kesabaran.
Sharing singkat ini kiranya dapat membantu kita merefleksikan sabda hari ini. Relasi Yesus dengan Bapa-Nya bagaikan pokok anggur yang benar dengan tukang kebun [petani]. Dengan sabar tukang kebun merawat tanaman anggur. Ia mengetahui ranting atau carang yang akan menghasilkan buah dan mana yang tidak akan menghasilkan buah. Ranting yang tidak akan menghasilkan buah pasti ia potong sehingga tidak tumbuh dengan percuma, hanya menghabiskan nutrisi. Sementara ranting yang akan menghasilkan buah dirawatnya, sehingga hasil melimpah.
Kita semua tahu bahwa ranting, carang akan bertahan hidup jika menyatu dengan pokoknya, sebagaimana difirmankan, “Akulah pokok anggur dan kamulah carang-carangnya. Siapa yang tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa” [Yoh 15:5]. Sabda ini menegaskan bahwa keberhasilan hidup Kristen bergantung sepenuhnya pada hubungan yang akrab dan konsisten dengan Yesus, Sang Pokok Anggur. Tanpa Dia, kita, manusia tidak dapat melakukan apa-apa yang bernilai kekal. Sebaliknya hanya dalam Kristus, kita akan menghasilkan buah yakni kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri [Gal 5:22-23]. Dengan berbuah kita menjadi berkat bagi orang lain. Dan hidup yang berbuah, menjadi saluran berkat adalah tanda bahwa kita memuliakan Allah.