Menembus Pagar Betis Keputusasaan
Rm. Jusuf Dimas Caesario
Seorang bapak pernah nekat menerobos barisan penjagaan ketat Paspampres di sebuah acara kedatangan pejabat publik. Sambil memegang map berisi berkas, ia berlari sekencang-kencangnya, tidak peduli dengan teriakan peringatan petugas, bahkan sempat tersandung dan jatuh bangun. Ketika akhirnya berhasil mendekat dan menyerahkan surat permohonan bantuan pengobatan anaknya yang sakit keras, ia menangis lega. Saat ditanya mengapa senekat itu, ia hanya menjawab sederhana, “Bagi saya, tidak ada kata malu atau takut demi nyawa anak saya. Yang penting saya bisa sampai ke depan beliau.”
Cinta dan harapan yang mendalam sering kali melahirkan keberanian yang di luar akal sehat. Ketika semua pintu dunia terasa tertutup, iman membuat seseorang berani mendobrak pembatas demi sebuah kesembuhan.
Isi Renungan
Hari ini, Injil Matius 9:18-26 menyuguhkan dua kisah mukjizat yang dijalin oleh satu benang merah yang sangat kuat: iman yang nekat dan penuh kepasrahan. Kita bertemu dengan seorang kepala rumah ibadat yang berduka karena anaknya baru saja meninggal, dan seorang perempuan yang sudah dua belas tahun menderita pendarahan.
Secara logika dan hukum Taurat pada zaman itu, kedua orang ini berada dalam posisi yang mustahil. Sang kepala rumah ibadat meminta Yesus membangkitkan orang mati—sesuatu yang mustahil secara medis. Sementara si perempuan pendarahan, menurut hukum imamat, statusnya adalah “najis”. Ia dilarang berada di kerumunan, apalagi menyentuh jumbai jubah seorang Guru Agama. Jika ketahuan, ia bisa dikucilkan atau bahkan dilempari batu.
Namun, perhatikan apa yang mereka lakukan. Sang ayah tetap tersungkur di depan Yesus dengan keyakinan penuh, “Datanglah dan letakkanlah tangan-Mu atasnya, maka ia akan hidup.” Di sisi lain, sang perempuan nekat menembus kerumunan demi menyentuh ujung jubah-Nya, sambil berbisik dalam hati, “Asal kusentuh saja jubah-Nya, aku akan sembuh.”
Dalam tradisi spiritualitas Katolik, kisah ini adalah sebuah pengajaran indah tentang esensi Sakramen dan rahmat Tuhan. Perempuan itu disembuhkan bukan karena jubah Yesus memiliki kekuatan magis, melainkan karena jubah itu menjadi sarana lahiriah dari imannya yang batiniah. Yesus menegaskan, “Teguhkanlah hatimu, hai anak-Ku, imanmu telah menyelamatkan engkau.”
Sering kali dalam hidup, kita merasa “najis” karena dosa-dosa kita, atau merasa situasi kita sudah “mati” dan tidak ada harapan lagi. Kita merasa minder dan menarik diri dari Gereja atau doa. Lewat perikop ini, Yesus mengetuk hati kita. Beliau tidak menjauhi si perempuan najis, dan Beliau tidak menghiraukan cemoohan orang-orang di rumah kepala ibadat. Yesus selalu siap menjamah kerapuhan kita. Tugas kita adalah meniru keberanian kedua tokoh ini: datang ke hadapan-Nya melalui Sakramen Tobat dan Ekaristi, menembus pagar betis rasa takut serta keputusasaan kita, dan membiarkan kuasa-Nya bekerja.
3 Poin Refleksi
- Dalam menghadapi persoalan hidup yang berat (sakit, masalah ekonomi, atau keretakan hubungan), apakah saya lebih sering menyerah pada keadaan atau justru semakin mendekat dan “menyentuh” Yesus dalam doa?
- Apakah ada rasa minder, rasa bersalah, atau perasaan “tidak layak” yang selama ini menghalangi saya untuk datang ke hadapan Tuhan dan menerima rahmat-Nya?
- Perempuan dalam Injil memiliki iman yang teguh meski harus menunggu dua belas tahun. Seberapa setia dan sabarkah saya menjaga nyala iman ketika doa-doa saya rasanya belum dikabulkan oleh Tuhan?
Doa Singkat
Tuhan Yesus Kristus, Engkaulah sumber kehidupan dan kesembuhan sejati. Sering kali iman kami goyah ketika menghadapi jalan buntu dan penderitaan yang tak kunjung usai. Seperti kepala rumah ibadat dan perempuan yang sakit pendarahan itu, anugerahkanlah kami keberanian dan iman yang teguh untuk selalu mencari-Mu. Jamahlah hati, jiwa, dan situasi hidup kami yang sedang sakit atau mati, agar oleh kuasa-Mu, kami dipulihkan dan dibangkitkan kembali. Amin.