Minggu Biasa XV A
(Yes. 55:10-11; Rom. 8;18-23; Mat. 13:1-23)
Rm. Yohanes Endi, Pr.
Saudara-saudariku terkasih, pernahkah kita memperhatikan seorang petani ketika mulai menabur benih? Ia berjalan perlahan sambil menghamburkan benih ke segala arah. Dari kejauhan mungkin tampak seolah-olah ia sedang membuang-buang benih. Mengapa tidak memilih tanah yang baik saja? Mengapa tetap menabur di tempat yang berbatu, di pinggir jalan, atau di semak-semak? Namun seorang petani tahu bahwa menabur selalu membutuhkan harapan. Ia tidak pernah memulai pekerjaannya dengan pesimisme. Ia percaya bahwa di antara sekian banyak benih yang ditebar, pasti ada yang menemukan tanah yang subur dan menghasilkan panen yang berlimpah. Begitulah Allah memperlakukan kita.
Dalam Injil hari ini, Yesus menggambarkan diri-Nya sebagai penabur yang tidak pernah lelah menaburkan Sabda. Menariknya, Sang Penabur tidak memilih-milih tempat. Ia tetap menabur, bahkan di tanah yang tampaknya tidak menjanjikan. Hal itu menunjukkan betapa besar kasih Allah. Ia tidak pernah berhenti berharap kepada manusia. Bahkan ketika manusia sering menolak-Nya, Allah tetap datang, tetap berbicara, tetap mengetuk pintu hati setiap orang.
Bacaan pertama dari Kitab Nabi Yesaya semakin memperjelas makna itu. Tuhan berfirman, “Seperti hujan dan salju turun dari langit dan tidak kembali ke sana sebelum mengairi bumi, demikian pula firman yang keluar dari mulut-Ku; firman itu tidak akan kembali kepada-Ku dengan sia-sia.”
Betapa indah gambaran ini. Hujan tidak pernah memilih sawah milik siapa yang akan dibasahi. Ia turun kepada semua. Demikian pula Sabda Allah. Ia selalu hadir, selalu memberi kehidupan, selalu membawa rahmat. Persoalannya bukan pada hujannya, melainkan pada tanah yang menerimanya. Tanah yang gembur akan menyerap air dan menghasilkan kehidupan, sedangkan tanah yang keras akan membiarkan air mengalir begitu saja. Bukankah demikian pula hidup kita? Setiap hari Tuhan menaburkan Sabda-Nya melalui Kitab Suci, homili, nasihat orang tua, teladan orang-orang kudus, bahkan melalui peristiwa-peristiwa kecil yang kita alami. Namun tidak semua Sabda itu berbuah. Kadang Sabda hanya singgah di telinga, tanpa pernah turun ke hati.
Yesus kemudian menjelaskan empat macam tanah. Tanah di pinggir jalan melambangkan hati yang tertutup sehingga Sabda segera dirampas. Tanah berbatu melambangkan orang yang mudah bersemangat, tetapi cepat menyerah ketika menghadapi kesulitan. Semak berduri melambangkan hati yang dipenuhi kekhawatiran, ambisi, dan kenikmatan dunia sehingga Sabda perlahan-lahan tercekik. Sedangkan tanah yang baik adalah hati yang mendengarkan, menghayati, dan setia melaksanakan Firman Tuhan dalam kehidupan sehari-hari.
Saudara-saudariku terkasih, sering kali kita berpikir bahwa masalah hidup berasal dari luar diri kita. Padahal Yesus mengajak kita melihat lebih dalam. Persoalan
utamanya bukanlah benihnya, sebab benih itu selalu baik. Bukan pula Penaburnya, sebab Allah tidak pernah salah menabur. Yang perlu terus diperbarui justru hati kita sebagai tanah tempat Sabda itu bertumbuh.
Lalu bagaimana kita menggemburkan tanah hati itu? Di sinilah bacaan kedua dari Surat Rasul Paulus kepada umat di Roma memberi jawaban yang sangat menghibur. Paulus mengatakan bahwa seluruh ciptaan sedang mengeluh dan menantikan saat pembebasan. Dunia ini belum sempurna. Hidup kita pun belum sempurna. Ada penderitaan, air mata, kegagalan, penyakit, konflik, dan berbagai salib kehidupan. Namun Paulus mengingatkan bahwa semua penderitaan itu tidak sebanding dengan kemuliaan yang akan dinyatakan kepada kita. Artinya, tanah hati yang subur bukanlah hati yang tidak pernah terluka, melainkan hati yang tetap berharap kepada Tuhan di tengah penderitaan. Justru sering kali air mata pertobatan menjadi hujan yang melembutkan hati yang selama ini mengeras. Kesulitan hidup dapat menjadi cangkul yang menggemburkan tanah jiwa kita agar semakin siap menerima Sabda Tuhan.
Saudara-saudariku terkasih, barangkali hari ini kita merasa diri lebih mirip tanah berbatu daripada tanah yang subur. Mungkin hati kita sedang dipenuhi kekhawatiran. Mungkin kita sedang kecewa kepada seseorang. Mungkin kita sedang lelah berdoa atau mulai kehilangan semangat mengikuti Tuhan. Jangan berkecil hati. Allah tidak pernah berhenti menabur. Ia tidak menyerah hanya karena tanah kita belum siap. Setiap hari Ia datang kembali membawa benih yang baru. Setiap hari Ia memberi kesempatan baru. Setiap hari Ia percaya bahwa hati kita masih bisa diolah menjadi tanah yang subur.
Marilah kita bertanya kepada diri sendiri, tanah macam apakah hati saya hari ini? Apakah Sabda Tuhan hanya saya dengarkan, atau sungguh saya hidupi? Apakah Firman itu hanya berhenti di gereja, atau ikut pulang ke rumah, ke tempat kerja, ke ruang kuliah, ke komunitas, dan mengubah cara saya berbicara, mengampuni, melayani, serta mengasihi?
Semoga Ekaristi yang kita rayakan hari ini semakin menggemburkan hati kita. Semoga Sabda yang kita dengarkan tidak berlalu begitu saja, tetapi berakar, bertumbuh, dan menghasilkan buah yang melimpah: buah kasih, pengampunan, kesetiaan, kerendahan hati, dan pengharapan. Dengan demikian, seperti hujan yang tidak pernah turun sia-sia, Sabda Tuhan pun tidak kembali dengan sia-sia dari dalam hidup kita. Sebaliknya, Sabda itu akan menjadi berkat bagi keluarga kita, Gereja, masyarakat, dan akhirnya menghantar kita kepada panen yang sejati, yaitu keselamatan kekal bersama Kristus. Tuhan memberkati kita semua. Amin.