Penyerahan diri secara total
RP Hugo Susdiyanto O.Carm
Matius 11:25-27
Kasih tanpa kebenaran hanyalah sentimental belaka; kebenaran tanpa kasih akan melahirkan anarkhisme. Demikian pula iman tanpa akal budi melahirkan fundamentalisme; akal budi tanpa iman menghasilkan ateisme. Kasih dan kebenaran saling melengkapi, demikian pula iman dan akal budi harus berjalan bersama.
Mengapa misteri Allah tersembunyi bagi orang bijak dan pandai, namun terbuka bagi orang kecil? Siapa yang dimaksud orang bijak dan pandai, lalu siapa orang kecil? Tampak orang bijak dan pandai adalah mereka yang mengandalkan kecerdasan intektualnya untuk mendekati misteri Allah. Dengan kecerdasan intektual dan teori yang mereka miliki, mereka merasa bisa mengetahui bahwa Allah akan bertindak begini atau begitu. Tanpa disadari dengan Tindakan itu mereka sedang menutup ruang gerak Allah dalam diri mereka. Sikap seperti ini tampak dalam diri orang-orang Farisi dan ahli Taurat. Sementara orang kecil adalah, mereka yang miskin di hadapan Allah, menyadari keterbatasan dirinya. Karenanya, mereka membuka dirinya untuk dituntun oleh Allah, mereka mengantungkan harapan mereka hanya kepada Allah. Sikap inilah kiranya yang berkenan kepada Allah.
Kesombongan intelektual menjadi penghalang dalam upaya mengenal misteri Allah. Sementara sikap rendah hati menjadi jalan terbuka untuk mengenal misteri Allah. Relasi antara bapak dan anak menjadi inspirasi dalam mengenal misteri ilahi. Sebab relasi bapak – anak adalah relasi kasih. Karena kasih, seorang anak mempercayakan diri seutuhnya kepada sang bapak. Dengan demikian anak mampu mengenal bapaknya secara otentik. Otentisitas inilah kiranya yang perlu kita tempuh dalam upaya mengenal misteri Allah. Pengenalan berangkat dari iman, harapan dan kasih, bukan dari kecerdasan intelektual, sebagaimana ditempuh St. Agustinus, “aku percaya supaya aku mengerti, aku berusaha mengerti supaya dapat percaya dengan lebih baik”. Sementara St. Bonaventura, ketika ditanya darimana ia mendapatkan kepandaiannya, ia menunjuk salib Yesus: “Dari Dia! Saya mempelajari Yesus yang disalibkan”. Iman akan Yesus yang menjadi landasan hidupnya. Ia terus berusaha memelihara kesegaran otaknya dan kesehatannya, agar dapat dimanfaatkan dengan sungguh-sungguh demi mengabdi kepada pengetahuan suci. Semoga kitapun ditemukan Allah sebagai orang yang yang berserah kepada-Nya.