Mengejar Sertifikat Asli Tanpa Mau Belajar

Mengejar Sertifikat Asli Tanpa Mau Belajar

Rm Yusuf Dimas Caesario

Ada seorang mahasiswa yang sangat terobsesi dengan nilai dan legalitas. Setiap kali dosen selesai menjelaskan materi di kelas, mahasiswa ini selalu mengangkat tangan. Namun, alih-alih bertanya tentang esensi ilmu yang baru diajarkan, ia selalu bertanya: “Pak, apakah materi ini nanti keluar di ujian? Apakah ada kisi-kisi resminya? Kalau saya ikut seminar ini, sertifikatnya ditandatangani langsung oleh Rektor atau tidak?” Ia begitu sibuk mengumpulkan bukti fisik, tanda tangan, dan jaminan nilai, sampai ia lupa esensi utama dari kuliah: yaitu belajar, mengubah pola pikir, dan mempraktikkan ilmu tersebut dalam hidupnya.

Kita sering kali bertingkah seperti mahasiswa ini di hadapan Tuhan. Kita sibuk meminta “bukti fisik” atau keajaiban yang kasat mata, tetapi kita mengabaikan proses pertobatan dan perubahan hati yang nyata di dalam diri kita.

Isi Renungan

Dalam Injil Matius 12:38-42, beberapa ahli Taurat dan orang Farisi datang kepada Yesus dan berkata, “Guru, kami ingin melihat suatu tanda dari pada-Mu.” Permintaan ini terdengar wajar, tetapi Yesus langsung memberikan jawaban yang keras: “Angkatan yang jahat dan tidak setia ini menuntut suatu tanda. Tetapi kepada mereka tidak akan diberikan tanda selain tanda nabi Yunus.”

Mengapa Yesus begitu gusar? Secara logika, Yesus sudah melakukan begitu banyak mukjizat di depan mata mereka: menyembuhkan orang sakit, mengusir setan, bahkan membuat orang lumpuh berjalan. Masalahnya bukan karena kekurangan tanda, melainkan karena ketegaran hati mereka. Mereka meminta tanda bukan untuk percaya, melainkan sebagai syarat atau alat uji coba untuk menghakimi Yesus.

Yesus kemudian mengarahkan mereka pada “Tanda Yunus”—sebuah nubuat tentang kematian dan kebangkitan-Nya sendiri (tiga hari tiga malam di dalam rahim bumi). Yesus juga membandingkan mereka dengan orang-orang Niniwe dan Ratu dari Selatan (Ratu Syeba). Orang Niniwe bertobat hanya karena mendengar khotbah Yunus tanpa menuntut mukjizat. Ratu Syeba datang dari ujung bumi hanya untuk mendengarkan hikmat Salomo. Sementara di hadapan orang Farisi, ada Yesus—yang jauh lebih besar dari Yunus dan Salomo—namun mereka tetap menutup mata batin mereka.

Dalam tradisi Katolik, perikop ini mengingatkan kita akan bahaya spiritualitas yang dangkal, yang hanya mengejar “mukjizat” atau sensasi rohani belaka. Iman Katolik yang sejati tidak digerakkan oleh mukjizat, melainkan mukjizatlah yang digerakkan oleh iman. Tanda terbesar dari Allah sudah diberikan kepada kita setiap hari melalui Ekaristi Kudus, di mana Kristus yang bangkit hadir secara nyata. Kita tidak perlu lagi mencari tanda-tanda ajaib di luar sana jika kita sendiri belum mau bertobat seperti orang Niniwe, dan belum mau membuka hati untuk mendengarkan Sabda-Nya setiap hari.

3 Poin Refleksi

  1. Apakah selama ini saya baru mau sungguh-sungguh berdoa dan pergi ke Gereja hanya ketika hidup saya sedang dilanda masalah dan saya sedang menuntut “tanda” atau mukjizat dari Tuhan?
  2. Orang Niniwe langsung bertobat saat mendengar teguran. Bagaimana sikap saya selama ini ketika mendengarkan khotbah atau membaca Kitab Suci yang menegur dosa-dosa pribadi saya?
  3. Di dalam Sakramen Ekaristi, Yesus yang lebih besar dari Salomo hadir secara nyata. Apakah saya sudah menerima-Nya dengan rasa hormat, rindu, dan iman yang penuh, atau justru sudah menjadi rutinitas biasa yang hambar?

Doa Singkat

Tuhan Yesus Kristus, ampunilah kami yang sering kali kurang percaya dan selalu menuntut bukti serta tanda ajaib di dalam kehidupan kami. Karuniakanlah kami mata iman yang jeli, agar kami mampu melihat kehadiran-Mu yang bersahaja dalam peristiwa sehari-hari dan dalam Sakramen-Mu yang kudus. Lembutkanlah hati kami yang tegar ini, ya Tuhan, agar seperti orang Niniwe, kami senantiasa siap untuk bertobat dan memperbarui hidup kami demi kemuliaan nama-Mu. Amin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Translate »