Saksi
Bacaan I: Kisah Para Rasul 2:14, 22-33
Injil : Mateus 28:8-15
Hari ini saya “blusukan” ke rumah Raymond dan Patricia. Raymond yang tinggi besar lahir dan dibesarkan di North Sydney dari ayah migran Polandia, ahli reparasi jam, dan ibu berdarah Skotlandia, sekitar 60 tahun lalu. Patricia yang hitam manis berdarah India, kelahiran Singapura, dan baru-baru ini mulai aktif menjadi akolit di paroki kami, St Mary North Sydney. Blusukan yang menyenangkan karena masih dalam suasana Paskah, acara utama adalah makan siang dan ngobrol bersama Ibu Raymond, wanita berambut putih dengan penampilan anggun dan ningrat, yang minta dipanggil: “Grandma”.
Salah satu topik yang menarik adalah mengenang Sang Grandpa. Sambil menunjukkan fotonya, Patricia berkisah bagaimana suatu hari secara misterius dia merasa terdorong untuk bertanya pada Raymond, mengapa tidak ada foto ayah Raymond (yang sudah meninggal) di rumah mereka. Raymond kaget sekali, karena dia baru mau bercerita, malamnya bermimpi ditegur ayahnya yang meminta Raymond untuk memasang foto Sang Ayah dirumahnya. Mereka lalu bercerita bahwa Sang Ayah punya cara unik untuk memberi derma. Dia suka mendatangi orang yang nampak kesusahan di jalan dan dengan wajah serius memberi uang sambil berkata: Maaf, ini uang Anda yah, tadi jatuh di jalan. Kebaikan yang mengalir pada orang-orang asing, hanya memberi, tak harap kembali. Karena dia baik.
Kebaikan senada juga mengalir dalam diri Sang Menantu. Patricia memiliki teman kerja yang terkenal dingin dan ketus. Suatu saat mereka datang pada pesta barbeque teman sekantor yang lain (orang Oz suka sekali membuat BBQ dengan mengundang tetangga dan teman), dan Patricia dengan ringan tangan membantu tuan rumah. Dia juga tak segan menyiapkan seporsi makanan untuk Sang Teman yang ketus . Sang Teman menerima kebaikan itu dengan wajah masam dan mulai berkomentar sinis menyinggung kemungkinan “ada udang di balik batu”, hingga Patricia hampir menangis karena tersinggung. Untunglah Raymond campur tangan menjelaskan: Please, just accept it. She likes to do it because it is good thing to do. Sang Teman terdiam. Dia bukan orang yang terbentuk di lingkungan orang yang percaya Tuhan dan kebaikan yang mengalir begitu saja sebagai sebuah keutamaan dan kebahagiaan hidup. Toh belakangan waktu kemudian, dia balik bersikap ramah dan bahkan memberi bunga untuk Patricia sebagai ungkapan terima kasih. Saya berkomentar: Kebaikanmu, Patricia, menarik kebaikan dalam diri temanmu. Grandma memberi pandangan lain, tertawa sambil berkata: ah…. Dia lakukan sebagai sebuah kewajiban, barangkali….
Bacaan hari pertama setelah Minggu Paskah mengisahkan pada hari Pantekosta, Petrus tampil bersaksi tentang Kristus Sang Guru yang bangkit mulia. Kuasa Roh Kudus mengobarkan hatinya dan kesaksian sepenuh hati itu membawa 3000 percaya pada Injil pada hari itu juga. Tak ada lagi ketakutan dianiaya, tak muncul lagi kerinduan untuk menjadi yang terbesar atau yang paling berkuasa. Yang ada: melayani dan mencintai. Dalam bacaan Injil, tergerak oleh kabar malaikat yang dikuatkan dengan penampakan Yesus yang bangkit, para wanita berlari mewartakan kebangkitan Sang Guru pada para murid yang lain. Tak perlu penjelasan “ekonomi”, analisa transaksi sosial politik ala partai peserta Pemilu, bukan karena dibayar seperti para serdadu yang menyebarkan cerita tandingan, mereka menyampaikan warta, karena hati meluap dalam sukacita.
Kitapun dipanggil untuk jadi saksi-saksi kebangkitan Kristus, menyebar dan menebar damai dan sukacita. Bukan karena takut neraka atau mengharapkan surga, tetapi karena merasakan dicintai, dan menemukan dalam cinta itu kepenuhan dan keutuhan diri. Kita mencinta karena Tuhan yang adalah cinta, hidup dan berkuasa dalam hati kita. Selamat mewartakan Tuhan yang bangkit mulia. Selamat Paskah!