Bebas
Bacaan 1 : 1 Raja-raja 17:1-6
Bacaan Injil : Matius 5:1-12
Dalam misa Kamis pagi minggu lalu, masih dalam suasana penantian peringatan Pentakosta, Paus Fransiskus menawarkan sebuah refleksi yang sangat menohok tentang bahaya memiliki Gereja yang kaku dan beku (laporan dan video dapat dilihat di: http://www.romereports.com/pg157152-pope-the-church-isn-t-a-rental-unit-it-s-a-home–en). Antara lain disampaikan oleh Bapa Suci:
“Keseragaman, kekakuan – benar-benar menyusahkan. Hal-hal ini tidak menyatakan kebebasan yang dikaruniakan oleh Roh Kudus…. Kristus tidak pernah menginginkan GerejaNya menjadi begitu kaku –tak pernah- karena ini, karena sikap mereka ini mereka tidak memasuki Gereja. Mereka menyatakan dirinya Kristen, Katolik, tetapi sikap mereka menjauhkan diri mereka dari Gereja.”
Hari ini, memasuki kembali masa biasa, kita membaca Sabda Bahagia, bagian dari Kotbah di bukit yang dikisahkan di Injil Matius. Dalam gaya penceritaan di Injilnya, Matius menampilkan Yesus sebagai Musa baru. Musa menyampaikan 10 Perintah Allah di Gunung Sinai, Yesus menjabarkan konstitusi Kerajaan Surga dari ketinggian bukit. Kesepuluh Perintah Allah diberikan dalam bentuk larangan (jangan) dan kewajiban (ingatlah dan kuduskanlah, hormatilah). Konstitusi Kerajaan Surga diberikan melampaui hukum dasar itu, dengan lebih menekankan pada pembangunan karakter yang berpusat pada kebebasan anak-anak Allah yang mengarahkan hati pada Bapa di surga, hingga tidak ada hal yang bisa melemahkan iman harapan dan kasih. Kemiskinan, duka cita, lapar dan dahaga, penderitaan karena menjunjung kebenaran, semua menjadi sarana menemukan sukacita sejati dari Allah. Didorong pula olehNya agar kita mengembangkan kelemahlembutan, kemurnian hati, kedamaian. Beberapa ahli menyatakan sebenarnya kedelapan sabda bahagia itu mencerminkan diri Yesus sendiri. Dengan kata lain: Musa meninggalkan hukum, Yesus memberikan diriNya sebagai hukum baru yang hidup dan membebaskan, teladan hidup yang benar, arah puncak evolusi rohani setiap insan.
Demikianlah Yesus datang untuk membangun rumah yang ramah dan terbuka untuk mereka yang lemah, letih, lesu, bahkan pendosa sekali pun (Dia bahkan menjamin memberikan surga untuk penjahat yang disalib bersamaNya!). Atas kelemahlembutan, kemurnian dan semangat kedamaianNya itu, Yesus mendapatkan kecaman, cercaan, fitnah dari lawan-lawanNya yang berujung pada penganiayaan dan hukuman mati di salib.
Betapa pedih hatiNya, jika didapatiNya sekarang orang-orang yang mengaku sebagai pengikutNya melakukan hal-hal yang sama seperti para musuhNya dulu: menindas sukacita hidup iman yang ramah terbuka dengan menimbang iman lewat ukuran-ukuran kaku tata aturan hukum harus begini begitu atau tidak boleh begini begitu, sikap kaku dan beku yang bertentangan dengan gerak Roh Kudus yang seperti angin bergerak kemana Ia mau (cf. Yoh 3:8), sikap anak-anak yang selalu melihat dunia hitam dan putih melulu, sikap oposisi biner yang memiskinkan dan membosankan, sikap politisi yang melihat komunitas sebagai tempat menyatakan kuasanya dan bukan rumah untuk semua.
Semoga semangat Pentakosta benar-benar membawa kita saling memahami dan mempersatukan satu sama lain. Semoga Roh Kudus membimbing kita dalam kebebasan anak-anak Allah hingga bisikan Tuhan Yesus pun terdengar dalam telinga rohani kita: berbahagialah kamu…! Veni Sancte Spiritus!