Marah

Bacaan I : 1 Raja-raja 18:41-46
Bacaan Injil : Matius 5:20-26
Dalam Injil hari ini, Yesus mengajak kita membaca hukum Tuhan secara mendalam, mencecap dan membiarkan diri ditangkap oleh semangat dasarnya daripada sekedar berenang di pemahaman permukaan. Dan topik utama hari ini soal memahami marah sebagai akar dari dosa berat pembunuhan. Tiga jalan berikut kiranya bisa menunjukkan kebenaran peringatan Yesus tersebut.
Kemarahan biasanya muncul dari kenyataan yang tidak sesuai dengan harapan. Salah satu kesenjangan yang paling bisa meletupkan percikan api kemarahan adalah rasa kehilangan kendali, entah atas situasi atau atas pribadi-pribadi yang mengecewakan kita, yang tidak seturut kehendak kita. Persoalannya, manakala kekecewaan atas kehilangan kendali tersebut meluap dasyat, kita justru makin kehilangan kendali membiarkan diri diarahkan emosi. Pada saat saat berada dalam situasi seperti itu, tak jarang kita membiarkan diri orang lain memegang “saklar” reaksi kita, menentukan sikap laku kita. Sikap kita kita biarkan ditentukan orang lain. Kehilangan kebebasan yang menjadi salah satu anugerah terbesar kita, menjadi seperti membunuh diri sendiri, karena diri sejati kita adalah mahluk ciptaan yang merdeka. Dalam situasi itu kita tahu, bukan Tuhan yang menciptakan neraka, melainkan kita yang memilih untuk kehilangan suka cita dan damai sejahtera. Tambah lagi, para ilmuwan mengingatkan adanya perubahan biokimia tubuh saat seseorang marah yang bisa membahayakan kesehatannya, seperti naiknya temperatur tubuh dan gula darah dan bertambah kencangnya degup jantung yang mendorong kenaikan tekanan darah.
Dua reaksi ekstrim yang kadang kita ambil juga dapat menebarkan bau kematian. Yang paling jelas adalah saat kekerasan dilancarkan. Bukan hanya tindakan fisik yang bisa membunuh, kita juga paham kampanye hitam –sebagaimana yang beredar kuat di masa pemilu Indonesia ini- adalah juga upaya menurunkan derajat lawan, melukai bahkan membunuh karakter musuh. Hal kecil seperti bergosip ria tentang kelemahan dan keburukan orang lain, bisa membuat pihak yang diserang kehilangan banyak pendukung kegembiraan hidupnya karena citra negatif dapat melekat padanya dan menyingkirkannya dari pergaulan normal. Karenanya polulerlah ungkapan “fitnah lebih kejam daripada pembunuhan”.
Reaksi ekstrim yang kedua yang cukup populer adalah menghindari orang yang menyakiti, sebagai upaya pertahanan diri agar tak lagi tersakiti, atau sebagai ungkapan pembunuhan yang lain lagi, karena tak jarang muncul ungkapan: “saya anggap dia tidak ada”. Pernyataan ini berbahaya karena menolak eksistensi orang lain (dengan kata lain “membunuh” atau setidaknya ingin melenyapkannya) seraya menolak kenyataan dan kebenaran bahwa pihak lawan itu ada.
Tentu saja tidak semua marah adalah salah karena ada kemarahan-kemarahan yang baik dan perlu. Tetapi kehilangan kendali kebebasan sebagai anak-anak Allah sebagai akibat dari kemarahan, selalu salah. Kita juga sadar dan mungkin sering harus runduk mengaku batas kemampuan kita untuk mengerti, menerima dan mengampuni seketika. Untuk itu kita selalu juga perlu memohon rahmat kebesaran hati. Akhirnya, sambil mencecap lagi peringatan dan nasehat Yesus Sang Guru, mari kita bawa pula nasehat Paulus dalam surat pada jemaat di Efesus (4:26b): janganlah matahari terbenam, sebelum padam amarahmu. Amien.