Antara Hidup dan Mati
Matius 16:24-28
Minggu terakhir ini saya dikejutkan dengan sebuah artikel berita dari Indonesia. Seorang bernama Ignatius Ryan Tumiwa (http://news.detik.com/read/2014/08/06/071631/2654236/10/4-alasan-jebolan-s2-ui-itu-ingin-bunuh-diri-dilegalkan), lulusan program S2 Universitas Indonesia, menyatakan ingin disuntik mati karena merasa hidupnya tidak ada gunanya lagi. Dari namanya saya mau menebak dia Katolik atau mempunyai orang tua Katolik. Sayang sekali hidupnya begitu merana sehingga dia merasa satu-satunya jalan adalah mengakhiri hidupnya sendiri.
Dalam bacaan hari ini Yesus berkata, “Barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya. Tapi barangsiapa rela kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya.”
Kasus Ryan bisa kelihatan seperti keberanian untuk mati. Tapi ini lebih merupakan sebuah contoh keputusasaan. Dan kita tidak bisa hanya menyalahkan dia sendiri. Masyarakat sekitarnya ikut mempunyai andil, menelantarkan orang semacam dia. Kita percaya Tuhan menciptakan setiap dari kita dengan tujuan masing-masing yang unik. Ryan telah melalui hidup sedemikian rupa sehingga dia berpikir tidak punya tujuan lagi. Keputusannya untuk bunuh diri bukan keberanian untuk mati demi Yesus, tapi mengakhiri sebuah hidup yang telah diciptakan Tuhan untuk tujuan tertentu. Karena itulah Gereja Katolik tidak menyetujui tindakan bunuh diri.
Jika anda ditanya, “Apakah anda siap untuk mati?” mungkin karena merasa sebagai umat Katolik yang baik anda akan menjawab, “Tentu saja. Saya siap bertemu Yesus.” Bisanya mudah mengatakan hal ini saat kita sehat. Tapi jika kita sakit serius dan berada di penghujung hidup kita, belum tentu semudah itu perasaan kita. Apakah ada orang-orang tercinta yang belum siap kita tinggalkan? Apakah ada hal-hal tertentu yang belum sempat kita selesaikan? Apakah ada keraguan bahwa saya sudah berbuat sebaik mungkin semasa hidup saya? Apakah ada kecemasan tentang apa yang akan terjadi sesudah kematian?
Karena itu saya mau memberi suatu cerita yang sama sekali lain, suatu kisah nyata. Seorang umat Katolik Indonesia divonis oleh dokter hanya mempunyai kurang lebih satu bulan untuk hidup karena penyakit kanker yang ganas. Bagaimana cara dia menghadapi berita ini? Dia memutuskan untuk kembali ke rumah, dirawat oleh suami dan anaknya, ditambah perawat yang datang ke rumah. Sementara itu dia menerima kunjungan dari teman-teman dari gerejanya dan umat Katolik Indonesia lainnya. Suatu waktu saya pun berkesempatan untuk datang pada acara persekutuan doa mereka. Setelah rosario bersama, saya pun bersiap untuk membawakan renungan. Saya perhatikan selama rosario dan selingan lagu-lagu, dia begitu antusias menyanyi dan berdoa. Kepalanya yang sudah gundul karena kemoterapi dan tubuhnya yang tinggal tulang dibungkus kulit tidak mengurangi semangatnya. Ketika saya mulai membawa renungan, dia menyela dengan meminta anaknya untuk mengambilkan tissue untuk saya. Dia melihat muka saya yang penuh keringat. Di tengah renungan, dia sempat berkata, “Jangan lama-lama, Frater, orang sudah pada lapar.” Dan sampai akhir acara, setelah makan-makan, dia dengan setia melayani setiap orang yang mau berbincang dengan dia, ikut foto-foto bersama, sampai tamu terakhir pulang.
Anda bisa bayangkan, ini perilaku orang yang sudah divonis hanya tinggal hidup sebulan lagi! Betapa penuh semangat dan suka cita! Dia juga bilang bahwa kedatangan orang-orang yang menyanyi, mengobrol, dan mendoakan membawa suatu kebahagiaan tersendiri bagi dia. Kematian boleh jadi di ambang pintu, tapi tidak kelihatan rasa takut pada dirinya. Malam itu semestinya saya yang membawakan renungan dan pelajaran, tapi yang terjadi adalah dia yang membuat saya merenung dan memberikan saya sebuah pelajaran berharga.
Mungkin kata-kata Yesus di atas bisa diartikan lebih dalam. Ryan, walaupun kelihatannya ingin mengorbankan nyawanya, tapi justru mau menyelamatkannya. Dia tidak tahan dengan hidupnya, sehingga satu-satunya cara untuk menyelamatkan dirinya dari penderitaan adalah dengan bunuh diri. Si umat yang saya ceritakan, walaupun hidupnya tinggal sebulan, tidak kemudian merasa hidupnya sudah tidak ada gunanya lagi. Dia menggunakan waktunya yang tinggal sedikit untuk mencerminkan Tuhan kepada setiap orang yang ditemuinya. Dia menjadi saksi hidup akan kesetiaan pada Tuhan sampai akhir hayat dan keteguhan dalam menghadapi kematian.
Mari kita doakan, untuk seorang umat ini dan juga untuk Ryan. Bagaimana pun, keduanya adalah anak Allah yang amat dicintaiNya. Semoga mereka sama-sama merasakan kasih Tuhan dalam hidup mereka.