Fransiskus, Si Saudara Kecil

Fransiskus, Si Saudara Kecil

Hari Raya Santo Fransiskus dari Assisi

Sirakh 50:1, 3-4, 6-7
Galatia 6:14-18
Matius 11:25-30

Lukisan di Mission San Luis Rey, California. Karya Mikaela Martinez
Lukisan di Mission San Luis Rey, California. Karya Mikaela Martinez

Hari ini hari yang sangat istimewa bagi para Fransiskan di seluruh dunia. Karena itu perkenankanlah saya berbagi bacaan yang dipakai khusus untuk hari raya ini, terutama di semua komunitas dan gereja yang diasuh para Fransiskan.

Selama seminggu ini saya membagikan renungan di Lubukhati, kata-kata “kecil” atau “anak” selalu saja muncul, mulai dari St. Theresa Kanak-kanak Yesus, malaikat pelindung yang menyertai kita yang kecil, sampai perendahan diri. Hari ini di dalam Injil, Yesus berdoa pada BapaNya, berterimakasih karena Sang Bapa telah menyatakan misteri ilahi kepada orang kecil. Bahasa asli Injil yaitu Yunani menggunakan kata “nepios” yang sebenarnya berarti anak kecil tetapi dipakai untuk menggambarkan orang yang kurang pintar atau “kekanak-kanakan”.

Santo Fransiskus hidup di Assisi, Italia, pada sekitar abad ketigabelas. Tidak pernah terbersit di pikirannya untuk membentuk suatu ordo dengan ribuan pengikut seperti sekarang ini. Malahan, dia menamakan kelompok kecilnya “minores” atau yang kita terjemahkan menjadi “saudara dina”. Di Assisi pada waktu itu ada dua kelompok, “majores” yang terdiri dari para bangsawan dan “minores”. Kelompok “majores” sangat kaya secara turun temurun, mereka menguasai banyak tanah dan memperkerjakan banyak orang. Hanya mereka yang bisa memberi anak-anaknya pendidikan tinggi. Para “minores” sangat bergantung pada “majores”. Mungkin istilah yang kurang lebih sama dalam bahasa Indonesia adalah “wong cilik”.

Fransiskus menamakan kelompoknya saudara “minores” karena dia menginginkan mereka merendahkan diri, untuk melayani sesama dan bukan untuk memerintah. Bagi Fransiskus, ini adalah cara pertobatan. Dia sadar betapa kecilnya manusia di hadapan kebesaran Tuhan. Dia menyebut kelompoknya “saudara” karena dia dapat melihat bagaimana kita semua adalah saudara karena kita semua, termasuk binatang dan tumbuhan dan makhluk tak hidup seperti air dan angin, adalah ciptaan Tuhan. Karena itu para saudara dina atau saudara “kecil” hidup di dunia ini untuk membangun persaudaraan dengan semuanya dan dengan semangat melayani. Seperti St. Paulus dalam bacaan kedua, tidak ada yang bisa kita sombongkan selain Salib Kristus. Semasa hidupnya, Fransiskus selalu menyatakan kecintaannya pada Yesus yang disalibkan, sehingga menjelang akhir hayatnya dia pun mendapat rahmat untuk berbagi sengsara Yesus dan menerima stigmata, atau luka-luka Yesus di salib.

Kalau kita melihat bacaan-bacaan selama seminggu ini, sepertinya Tuhan senantiasa memanggil kita untuk merendah, untuk menjadi seperti anak kecil. St. Fransiskus memberi kita sebuah teladan untuk berbuat demikian, untuk mencari jalan-jalan yang kecil tapi penuh dengan kecintaan pada Tuhan, untuk selalu melayani orang lain dan tidak menganggap diri lebih penting atau lebih tinggi dari orang lain. Tidak heran kalau doa yang terkenal ini, walaupun tidak ditulis sendiri oleh Fransiskus tapi dihubungkan dengan namanya:

Ya Tuhan Allah,
ajarlah aku untuk lebih suka menghibur daripada dihibur;
mengerti daripada dimengerti;
mengasihi daripada dikasihi;
sebab dengan memberi kita menerima;
dengan mengampuni kita diampuni,
dan dengan mati suci kita dilahirkan ke dalam Hidup Kekal.
Amin.

Semoga semangat kerendahan hati St. Fransiskus menyusupi kita semua dan semua umat manusia di dunia ini.

2 thoughts on “Fransiskus, Si Saudara Kecil

    1. Thank you, Herman. Semoga Tuhan selalu membimbing anda dalam memenuhi panggilanNya untuk berperan serta dalam karya penyelamatan Allah.

Comments are closed.

Comments are closed.
Translate ยป