Murah Hati

Bacaan I : Wahyu 14:1-5
Bacaan Injil : Lukas 21: 1-4
Pujangga besar Lebanon Khahlil Gibran mengatakan, kemurahan hati adalah memberi lebih dari yang dapat engkau berikan, dan kesombongan hati adalah mengambil kurang dari yang engkau perlukan. Sungguh benar bukan? Kemurahan hati sebetulnya sangat mahal karena sedikit orang bisa mencapainya setiap saat. Ironisnya, tak jarang makin miskin seseorang makin bebas dan murah hati ia dalam membagikan yang dimilikinya. Sebaliknya, makin kaya seseorang, makin gelisah hidupnya dan lekat ia pada harta bendanya.
Seorang Uskup di Indonesia dalam forum retret nasional para imam bercerita, suatu hari seorang umat menatap dengan takjub rosario indah yang dimiliki Bapa Uskup. Tidak berhenti di sana, ia memberanikan diri meminta rosario itu dari Bapa Uskup! Persoalannya, rosario itu bukan saja indah, tetapi punya sejarah pribadi yang penting hingga dengan halus Bapa Uskup menolak melepaskannya.
Tetapi cerita tidak berhenti di sana. Sesaat kemudian, batin Bapa Uskup menjadi tidak tenang. Ia merasa gelisah karena suara hatinya menggugat ketidakmampuannya untuk lepas bebas terhadap rosarionya itu. Kelekatannya entah pada Rosario sebagai benda maupun “nilai sejarah” membuatnya tak mampu mengambil keputusan secara bijak dan seimbang. Ia menyadari, rasa ingin tetap memiliki benda dan kenangan itu menjadikannya terpenjara dan tidak bebas. Alih-alih menjadi pemilik Rosarionya, ia “dimiliki” oleh Rosario dan kenangannya tersebut. Padahal rosario itu mungkin jauh lebih bermanfaat dan berarti bagi sang umat.
Sadar akan “kekeringan rohani’ yang dideritanya karena sikapnya, ia memutuskan akan memberikan rosario itu pada siapa pun yang nampak tertarik dan mungkin ingin memilikinya, karena ia tak dapat lagi melacak orang yang pertama kali memintanya. Singkat cerita, suatu hari rosario itu pun berpindah pemilik, dan Bapa Uskup yang belajar dari pengalaman itu menjadi makin waspada akan gerak hati yang membawa pada kelekatan yang tak teratur. Ia menjadi lebih murah hati, rendah hati, dan makin melayani dan mencintai. Dan dengan murah hati dan rendah hati, ia berbagi pengalaman rohaninya pada para imamnya, agar mereka pun menjadi imam-imam yang murah hati, sebagaimana layaknya seorang imam dari Sang Gembala Agung yang murah hati.
Tidak mudah mengikuti jejak 144.000 orang yang mendapat kehormatan berdiri di hadapan Anak Domba di bukit Sion dalam kitab Wahyu, karena mereka digambarkan sebagai “tidak bercela”. Tidak mudah juga mencontoh janda miskin dalam Injil hari ini, yang memberi dari kekurangannya, memberi lebih dari yang sesungguhnya dapat ia berikan. Dalam ungkapan lain dari Bunda Teresa, “Love until it hurts. Real love is always painful and hurts; then it is real and pure.” Rasa sakit kehilangan menjadi penanda kemurahan hati dan pemurnian diri. Tentu, adalah juga benar bahwa manakala kemurahan hati sudah menjadi kebiasaan, rasa sakit itu bisa jadi “hilang”, karena Bunda Teresa juga menyampaikan paradox, “ if you love until it hurts, there can be no more hurt, only more love.”
Hari ini kita merayakan kemurahan hati St Andreas Dung Lac dan kawan-kawan, 177 orang kudus martir Vietnam yang memberikan seluruh hidupnya, wafat menjadi saksi kecintaan pada imannya, bersama 130.000 martir Kristiani yang lain dari abad 17 sampai 19 di Vietnam. Biji yang jatuh ke tanah itu berbuah banyak. Kini Vietnam memiliki anggota Gereja Katolik terbesar ke lima di Asia, setelah Filipina, India, Tiongkok dan Indonesia, sekitar 6 juta orang, 10% dari penduduk di Vietnam. Para migran Katolik asal Vietnam juga menjadi darah segar bagi banyak Gereja di negara Barat seperti Amerika dan Australia. Dengan perantaraan para martir itu –termasuk Joseph Tuc, bocah berusia 9 tahun- mari kita mohon rahmat kemurahan hati, tanda bakti pada Kristus Raja Abadi yang lebih dulu melimpahkan cinta tak habis-habisnya dengan murah hati pada kita semua.