DENGAN PENUH KERENDAHAN HATI YOHANES PEMBAPTIS MENGAKU BAHWA IA HANYA MEMPERSIAPKAN JALAN UNTUK YESUS
10 January, 2015
1 Yohanes 5:14-21
Yohanes 3:22-30
“DENGAN PENUH KERENDAHAN HATI YOHANES PEMBAPTIS MENGAKU BAHWA IA HANYA MEMPERSIAPKAN JALAN UNTUK YESUS.”
Saudara-saudari terkasih,
Sekitar tahun 2000 saya pernah memimpin perjalanan rohani ke Fatima (Portugal), Roma, dan Lourdes (Prancis)…dan sempat ke Venetia. Ketika mampir di Venetia, saya mendapat kesempatan naik gondola dari Basilica San Marco menelusuri tempat-tempat bersejarah di sepanjang Mediteranian Sea. Salah satu tempat bersejarah yang saya ingat baik, ialah tempat tinggal atau rumah yang pernah didiami oleh komposer terkenal Amadeus Mozart. Dikatakan juga bahwa dalam salah satu fictional movie ada seorang komposer lain namanya Salieri yang secara tidak sehat mau menyaingi dan sangat mencemburui Mozart. Ia tidak senang kalau Mozart dibilang sebagai Musisi terkemuka. Salieri tidak mau menjadi orang nomor dua setelah Mozart.
Dari cerita ini boleh dibilang bahwa Salieri sikap atau tabiatnya sungguh bertentangan dengan Yohanes Pembaptis yang ceritanya kita dengar dalam bacaan injil hari ini. Baik Yesus maupun Yohanes Pembaptis, keduanya adalah pewarta kabar gembira, masing-masing memiliki pengikut. Pada suatu hari murid-murid Yohanes Pembaptis bersama beberapa orang lain menyampaikan kepada Yohanes bahwa Yesus juga melakukan pembaptisan. Yohanes menjawab: “Tidak ada seorangpun yang dapat mengambil sesuatu bagi dirinya, kalau tidak dikaruniakan kepadanya dari sorga. Kamu sendiri dapat memberi kesaksian, bahwa aku telah berkata: Aku bukan Mesias, tetapi aku diutus untuk mendahuluiNya.”(Yohanes 3:27)
Yohanes Pembaptis sendiri tidak pernah merasa disaingi…atau takut akan disaingi oleh Yesus. Ia dengan cukup jelas dan tegas menerima fakta peranannya sendiri dalam hidupnya. Hal itu dinyatakan pada hari kelahirannya sendiri ketika ayahnya, Zachariah, ketika sedang berdoa, “Engkau, anakku, akan disebut nabi yang mahatinggi.” Yohanes bukan Messias, tetapi seorang yang menyiapkan jalan bagiNya. Ia menjelaskan hal ini kepada para pengikut/muridnya dalam salah satu pengertian tentang perjamuan nikah. Yesus adalah mempelai laki-laki, pemeran utama, dan Yohanes adalah sahabat mempelai laki-laki (di America biasa disebut the best man), yang mempersiapkan jalan untuk mempelai laki-laki. Kerendahan hatinya menunjukkan kebenaran. Yohanes dalam kerendahan hati itu melaksanakan apa yang telah Tuhan tugaskan kepadanya. Disini kita tidak pernah melihat bahwa apa yang Yohanes lakukan untuk menyaingi Yesus. Melainkan, Yohanes mengdeklarasikan bahwa “He must increase, while I must decrease.”(“Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil”)
Di taman Firdaus, Adam dan Hawa justru jatuh dalam dosa yang disebut “dosa kesombongan.” Setan mencobai mereka dengan suatu janji bahwa mereka akan menjadi seperti Allah. Saudara-saudari sekalian, kita perlu menyadari bahwa kita semua dilahirkan dalam kelemahan yang sama, yakni kelemahan “keakuan” (dosa keakuan), dan kesombongan itu adalah salah satu dari dosa-dosa pokok. Sementara di pihak lain kita juga diciptakan untuk memuji dan memuliakan Tuhan. Tetapi kadang kala kita juga dicobai untuk melakukan pekerjaan demi kemuliaan dan kebesaran nama sendiri ketimbang demi kemuliaan dan keagungan nama Allah Pencipta; Kita lalu lupa bahwa segala sesuatu yang kita peroleh itu datangnya dari Allah. Kalau kita bekerja untuk kemuliaan dan keagungan nama sendiri, maka disini kita lupa akan kata-kata Yohanes sendiri yang mengatakan: “He must increase, while I must decrease.”(“Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil.” Yohanes 3:30.)
Jadi, saudara-saudariku terkasih,
Apa yang dapat kita perbuat sekarang ini? Kiranya sudah cukup jelas baha hidup kita sudah seharus berpusat kepada Kristus (Christ-centered), dan pekerjaan kita kiranya dapat mengatasi “self-centered” kita. Sebagai misal kalau kita lagi menjalani perlombaan marathon, memenangkan kejuaraan itu dan mendapat award atau menciptakan suatu yang fantastik dari suatu karya seni misalnya, kita perlu mengucap syukur kepada Tuhan dan memuji atau memuliakanNya. Kalau kita mendapat pujian atas prestasi yang kita peroleh dalam suatu kegiatan atau perkerjaan tertentu, seperti masakan kita enak, suara kita bagus dan bahkan penampilan kita menakjubkan (cantik atau ganteng), maka tidak mustahi kalau kita bisa mengatakan…”puji Tuhan!” dan terimakasih! Lalu kalau kita semua bisa fokus pada kegiatan untuk mempromosikan Injil Tuhan (Kabar Gembira) ini dalam kehidupan kita sehari-hari dan tidak mewartakan diri sendiri, maka dengan demikian kita sudah bisa menjawab panggilan kita sebagaimana yang Tuhan kehendaki: bahwa “Yesus harus makin besar dan aku harus makin kecil.” Amen.