When God closed the door, God opens a window

Mark 2:1-4
Kemudian, sesudah lewat beberapa hari, waktu Yesus datang lagi ke Kapernaum, tersiarlah kabar, bahwa Ia ada di rumah. Maka datanglah orang-orang berkerumun sehingga tidak ada lagi tempat, bahkan di muka pintupun tidak. Sementara Ia memberitakan firman kepada mereka, ada orang-orang datang membawa kepada-Nya seorang lumpuh, digotong oleh empat orang. Tetapi mereka tidak dapat membawanya kepada-Nya karena orang banyak itu, lalu mereka membuka atap yang di atas-Nya; sesudah terbuka mereka menurunkan tilam, tempat orang lumpuh itu terbaring.
Siapakah 4 orang yang mengangkat si lumpuh pada Yesus? kita tidak tahu identitas mereka, bahkan namapun tak disebutkan dalam Injil Markus. Keempat orang ini mencari cara bagaimana membawa si sakit pada Yesus, saat semua jalan tak bisa dilewati. Bisa dibayangkan, betapa orang begitu antusias ingin melihat Yesus, sampai mereka tak peduli dan tak memberi jalan pada orang lumpuh untuk lewat. Seakan mereka tak mau “spot” mereka diambil orang lain.
Ketika jalan biasa tertutup, keempat orang ini kreatif membuka atap rumah, dan menurunkan si lumpuh pada Yesus. Janganlah dibayangkan bahwa rumah-rumah orang Yahudi di abad pertama sama seperti rumah permanen yang kita punya sekarang ini. Atap rumah mereka mudah dibuka-ditutup, terbuat dari bahan yang tidak berat, mempercepat sirkulasi udara saat dibuka atau ditutup.
Bacaan hari ini mengingatkan kita kalau sering kita berhenti dan putus asa ketika sebuah usaha gagal, seolah akhir segalanya. Sama seperti orang-orang yang tak menemukan jalan buat si lumpuh. Mereka perlu membuka jalan lain, berputar, bekerja lebih keras agar usahanya tercapai. Di saat-saat seperti itu, kita butuh orang lain, teman dan sahabat untuk membantu membuka jalan baru bagaimana agar sampai pada Tuhan, karna sering kita sendiri hanya mampu melihat satu jalan, tak melirik jalan alternatif, atau takut untuk melewatinya.
Suatu hari kita pasti akan menjadi seperti 4 orang pengusung si sakit, menunjukkan jalan pada orang lain, mencari alternati dan usaha lain agar cita-cita yang diimpikan bisa diraih. Yakinlah bahwa di saat Allah telah menutup pintu, Ia juga sudah membuka sebuah jendela bagi kita.