Membuang saudara sendiri
Maka iri hatilah saudara-saudaranya kepadanya, tetapi ayahnya menyimpan hal itu dalam hatinya. Baru saja Yusuf sampai kepada saudara-saudaranya, merekapun menanggalkan jubah Yusuf, jubah maha indah yang dipakainya itu. Dan mereka membawa dia dan melemparkan dia ke dalam sumur. Sumur itu kosong, tidak berair. Marilah kita jual dia kepada orang Ismael ini, tetapi janganlah kita apa-apakan dia, karena ia saudara kita, darah daging kita.” Dan saudara-saudaranya mendengarkan perkataannya itu. Ketika ada saudagar-saudagar Midian lewat, Yusuf diangkat ke atas dari dalam sumur itu, kemudian dijual kepada orang Ismael itu dengan harga dua puluh syikal perak. Lalu Yusuf dibawa mereka ke Mesir.
Masih ingatkah akan kasus anak yang mempidanakan ibu sendiri di Jawa Timur? Nenek Artija, warga Kelurahan Wirolegi, Sumbersari, Jember, Jawa Timur. Di usianya 70 tahun, ia harus berurusan dengan polisi, setelah dilaporkan anak kandungnya Manisah. Ia hanya bisa menangis tak percaya, anak yang dilahirkan dan dibesarkannya berpuluh-puluh tahun, tega melaporkannya ke polisi. Bahkan menuduhnya telah mencuri empat batang pohon bayur, yang dia tanam sendiri (sumber: Indosiar Maret 2013).
Masih banyak cerita serupa, perkelahian antar saudara dan pecahnya keluarga karena iri hati, cemburu, berebut warisan dan harta kekayaan. Salah satu kisahnya ada dalam kitab Kejadian. Yusuf dibuang oleh saudara-saudaranya karena mereka merasa cemburu bahwa ayah mereka lebih mengasihi Yusuf dari pada anak yang lain. Mereka ingin membuat sang anak tersayang, agar perhatian sang ayah juga terbagi untuk orang lain.
Ketika hubungan darah tidak lagi bisa mengikat persaudaraan karena orang lebih mementingkan hal lain, maka putuslah relasi kekeluargaan itu. Orang California akan berkata, “This is the family I have because of blood, but this is the better family that I choose.” Orang meninggalkan keluarganya dan tak pernah kembali ke rumah, karena dia menemukan keluarga baru yang baginya lebih kuat dari ikatan darah.
Semoga kita masih memiliki ikatan yang kuat dengan saudara sendiri meski sering menjengkelkan dan tak lebih baik dari teman. Walaupun mereka kadang hanya ingat kita di saat kesulitan, dan lupa kala hidup dalam kesenangan; janganlah kau putuskan tali ikatan darah persaudaraan. Namun kalau sungguh amat menyakitkan…..?
