Kamis, 2 April, 2015

Kamis, 2 April, 2015

Bacaan I : Keluaran 12: 1-8, 11-14

Bacaan Injil : Yohanes 13: 1-15

Mungkin kita bertanya-tanya dalam hati kita “Ada apa kok sampai makan saja dicatat dalam Kitab Suci, bahkan termasuk dalam bagian yang penting dalam Injil?”. Pertanyaan ini sah-sah saja. Tiap orang punya hak untuk bertanya. Namun dalam konteks ini baik dalam bacaan pertama maupun bacaan Injil kita disuguhi sebuah drama tentang makan yang dilalukan oleh orang-orang Israel ketika akan keluar dari Mesir dan drama tentang perjamuan makan malam terkahir yang dilakukan oleh Yesus dan murid-muridNya. Dalam kedua peristiwa ini sebenarnya kita melihat sebuah karya penyelamatan yang dilakukan oleh Allah atas hidup umatNya.

Makan adalah tanda persaudaraan. Makan adalah tanda kebersamaan. Dalam upacara makan bersama terungkaplah kesempurnaan persaudaraan. Tidak ada jamuan makan yang dilakukan dalam kemarahan ataupun permusuhan. Jika seandainya ada maka jamuan itu merupakan sebuah siksaan. Upacara makan bersama itu merupakan sebuah hal yang sangat menyakitkan.

Dalam perjamuan makan malam terkahir yang dilakukan oleh Yesus dan para muridnya kita bisa melihat betapa Yesus mau memberikan diriNya seluruhnya kepada para muridNya. Dalam perjamuan malam terakhir ini pula Yesus mengajari kita tentang artinya kasih persaudaraan. Kasih persauadaraan artinya kita mau saling mengampuni dan saling menerima, saling menguatkan dan saling mendoakan. Dalam perjamuan malam terkahir yang dilakukan oleh Yesus kita juga melihat kasih mencapai kesempurnaannya dalam pengurbanan. Berdasarkan pada ajaran Yesus ini maka mari kita mohon kekuatan dari Tuhan agar kitapun diberi kekuatan untuk dapat memberikan kasih kita kepada sesama kita, terutama pada anggota keluarga kita. Amin. Tuhan memberkati.

Comments are closed.
Translate »