Sense of belonging

Perayaan Yesus naik ke surga
John 16:27-28
Bapa sendiri mengasihi kamu, karena kamu telah mengasihi Aku dan percaya, bahwa Aku datang dari Allah. Aku datang dari Bapa dan Aku datang ke dalam dunia; Aku meninggalkan dunia pula dan pergi kepada Bapa.”
“Sense of belonging” adalah salah satu kebutuhan dasar psikologis manusia. Setiap orang memiliki rasa memiliki dan dimiliki oleh orang lain, keluarga, kelompok, atau negara. Rasa memiliki dan dimiliki memberi rasa aman dan stabilitas pada seseorang. Sense of belonging juaga memberi makna pada hidup dan aktivitas yang kita lakukan setiap harinya. Mengapa kita mau bekerja, berkurban waktu dan tenaga untuk keluarga atau kelompok sosial, Gereja, dan masyarakat? Tidak hanya uang yang didapat, tapi ada perasaan bahwa kita merasa dimiliki dan memiliki tanggungjawab untuk berbuat sesuatu bagi mereka yang menjadi bagian dari kelompok kita.
Sebaliknya ketika sense of belonging itu hilang, kita akan tak punya dorongan untuk berbuat sesuatu bagi orang lain atau kelompok yang kita tak merasa terikat padanya.
Kenaikan Yesus ke Surga memberi kita pengertian bahwa tujuan akhir hidup kita adalah surga. Yesus merasa dimiliki dan memiliki Allah Bapa, sehingga ia harus kembali padaNya. Setiap kali Yesus berkata, “Tinggalah dalam kasihku!” “Akulah pokok anggur dan kamu rantingnya” “Siapa yang tinggal dalam aku akan berbuah banyak!” Itulah bahasa sense of belonging. Kita menemukan arah, tujuan, dan kepada siapa kita merasa dimiliki dan memiliki.
Sekarang ini banyak orang kehilangan “sense of belonging” tercabut dari keluarga, masyarakat, dan negaranya. Ratusan imigran dari Pakistan dan Bangladesh sekarang ini terapung-apung tak menentu di selat Andaman, antara Thailand, Malaysia, Indonesia, dan Singapura. Sebagian dari mereka mati kelaparan dan kekurangan air bersih. Mereka kelompok Rohingnya, lari dari rumah dan negaranya karena konflik agama.
Malaysia tak mau menerima mereka. Thailand hanya menjatuhkan bantuan air dan makanan dari helikopter dan meninggalkan mereka di lautan. 3 hari lalu, polisi laut Indonesia juga menolak mereka. Mereka tidak diterima karena miskin, tak berpendidikan, dan kehadiran mereka bisa memicu persoalan sosial dan ekonomi dari negara yang menerimanya. Mereka kehilangan “sense of belonging.”
Beberapa hari lalu, 580 imigrant rohingya mendarat di Aceh, ditampung di tempat sementara, diperiksa kesehatannya, dan menunggu langkah selanjutnya dari PBB dan Indonesia untuk menolong mereka..
Hari ini kita berdoa bagi mereka yang kelilangan “sense of belonging”, tak merasa memilik dan dimiliki oleh keluarga, kawan, masyarakat, dan negaranya…kita doakan para imigran yang tak memiliki siapa-siapa. semoga meraka ingat bahwa Tuhan masih memiliki mereka!