Allah Orang Hidup

Allah Orang Hidup

Hari Raya Pesta Santo Karolus Lwanga dan Para Martir Uganda

2a-Photo-of-Martyrs

Tobit 3:1-11A; 16-17A
Mazmur 25
Markus 12:18-27

Pernahkah anda mengalami sebuah keadaan yang sangat menyakiti hati anda, entah karena kejadian yang menimpa anda sendiri atau orang lain yang sangat anda kasihi? Bagaimana anda berdoa di saat seperti itu? Apakah doa yang disertai tangisan atau malahan tidak ada kata yang keluar selain isak tangis? Mungkin anda juga ragu apakah Tuhan benar-benar mendengarkan dan akan memulihkan keadaan?

Dalam Kitab Tobit hari ini dikisahkan tentang dua orang yang sudah hampir putus asa dan hanya bisa berdoa pada Tuhan. Tobit menjadi buta dan dimarahi oleh istrinya sendiri. Sara, sepupu jauh Tobit yang hidup di kota lain, sudah kawin tujuh kali tetapi setiap akan berhubungan intim untuk pertama kalinya, nyawa sang suami dicabut oleh setan bernama Asmodeus. Terlebih lagi, seorang pelayan wanitanya terus menghina dia karena nasib buruknya itu. Saking putus asanya, Tobit dan Sara berdoa bahwa lebih baik mereka mati daripada hidup menderita seperti itu.

Doa seperti itu, atau lebih dikenal dengan ratapan di dalam Alkitab, yang seringkali sampai diiringi tangisan karena ketidakberdayaan kita, merupakan doa yang sangat kuat. Paus Fransiskus dalam suatu homili saat Prapaskah mengatakan bahwa air mata adalah sebuah anugerah karena dengan tangisan doa kita dan perjalanan pertobatan kita menjadi lebih otentik dan tidak berpura-pura atau hipokrit. Dan Tuhan pun sungguh mendengarkan doa itu, seperti Dia mendengar doa Tobit dan Sara dan mengirimkan malaikat Rafael untuk memulihkan mereka.

Tobit dan Sara berdoa supaya lebih baik mereka mati saja. Tetapi Tuhan mempunyai rencana yang lain. Ia memberi mereka hidup, hidup yang berkelimpahan. Sarah akhirnya menikah dengan anak Tobit, Tobiah, dan ia tidak mati seperti suami-suami sebelumnya. Tobit bisa mempunyai keturunan melalui perkawinan anaknya, dan hidup sejahtera dan berumur panjang.

Bahkan kematian badan sendiri tidak berkuasa atas kita lagi. Santo Karolus Lwanga pasti juga meratap ketika dijatuhi hukuman mati oleh raja Uganda karena iman Katoliknya. Doanya pasti didengar Tuhan. Ketika dibakar hidup-hidup, ia mengatakan pada algojonya bahwa api yang membakar tubuhnya itu terasa seperti air saja.

Kematian, baik secara jasmani atau ragawi (putus asa, patah semangat, dsb.) bukanlah kata yang terakhir atau sesuatu yang diinginkan Tuhan. Seperti dikatakan dalam Injil Markus hari ini, Ia adalah Allah orang hidup, bukan orang mati. Di dalam pengalaman hidup kita, pasti kita mengalami hal-hal yang sangat menyakitkan atau membuat kita putus asa, membuat kita seperti ingin mati saja. Di antara kehidupan dan kematian, antara berkat dan kutuk, pilihlah kehidupan dengan mengasihi Tuhan, Allahmu (Ulangan 30:19).

Comments are closed.
Translate ยป