Anak
Peringatan Santo Bonifasius, Martir, Santo Pelindung Jerman
Tobit 11:5-17
Mazmur 146
Markus 12:35-37

Salah satu nilai yang paling dijunjung tinggi dalam budaya kita adalah bakti anak pada orangtuanya. Seorang anak yang sudah diasuh dari kecil, ketika sudah dewasa diharapkan bisa membalas budi dengan menjaga dan merawat orangtuanya supaya hidup mereka di hari tua berkecukupan dan tidak menderita. Cerita-cerita rakyat berbagai budaya di Indonesia seringkali mengisahkan anak yang durhaka, yang tidak tahu membalas budi orang tuanya (misalnya Malin Kundang, Sangkuriang, dsb.) untuk menanamkan rasa bakti anak-anak pendengar cerita itu kepada orang tuanya. Uniknya, ketika saya cari di Kamus Indonesia-Inggris, kata “durhaka” diterjemahkan menjadi “rebellious” atau “insubordinate”, dua kata yang tidak langsung mengingatkan kita pada hubungan anak dan orangtua. Bisa jadi ini mencerminkan bahwa bakti pada orangtua di dunia Barat tidak mendapat posisi setinggi dalam budaya Timur.
Tobiah adalah contoh anak yang ideal. Ia pergi berkelana demi membantu orangtuanya: menagih utang, mendapatkan istri untuk meneruskan garis keturunan, dan mencarikan obat untuk menyembuhkan ayahnya, Tobit, yang buta. Bukan main bergembiranya Tobit dan Edna ketika Tobiah pulang dengan sukses. Mereka memuji Tuhan di depan semua orang.
Dalam bacaan Injil, Yesus menyinggung tentang sebutan Anak Daud. Istilah ini digunakan bangsa Yahudi saat itu untuk menyebut sang Mesias yang dijanjikan oleh para nabi akan menyelamatkan mereka. Dalam nubuatnya, sang Mesias adalah keturunan dari Raja Daud, karena itu ia disebut Anak Daud. Secara tidak langsung, gambaran mereka tentang Mesias yang akan datang adalah seorang raja seperti Daud yang akan memerintah Israel yang baru.
Tetapi yang terjadi sama sekali di luar dugaan. Yesus, sang Mesias sejati, tidaklah datang sebagai raja. Ia datang dari keluarga sederhana yang tinggal di rumah sederhana di Nazareth, bukan istana di ibukota Yerusalem. Lebih dari itu, Ia mati di kayu salib, sebuah hukuman yang paling hina di jaman itu. Mereka tidak bisa mengerti bahwa Yesus sebetulnya adalah Anak Allah, dan sebagai Anak yang berbakti, Dia patuh pada dan menjalankan perintah BapaNya.
Dengan kuasa pembaptisan, kita pun diangkat menjadi anak-anak Allah. Sudahkah kita berlaku seperti anak Allah dan berbakti pada Dia? Atau apakah kita lebih sering bersikap durhaka terhadap Dia yang sudah mengasihi kita dan memberi kita kehidupan?