Selasa, 22 September 2015

Selasa, 22 September 2015

 

 

Bacaan: Ezr. 6:7-8; 12b; 14-20. Mzm. 122:1-5. Luk. 8:19-21

 

Dalam masyarakat, pernah saya dengar di Amerika Serikat, ada beberapa kalangan yang mengatakan bahwa, “I am spiritual but not religious”. Atau yang satu ini, “We want God, but we don’t want church”. Pendapat-pendapat ini muncul sebagai akibat dipisahkannya faham spiritualitas dan faham mengenai gereja. Hari ini kita diingatkan melalui Injil, bahwa Yesus menawarkan suatu persaudaraan Keluarga Allah. Yesus mengajak orang untuk mendengarkan SabdaNya secara bersama sebagai sebuah keluarga. Kita diingatkan bahwa mendengarkan SabdaNya itu kita laksanakan dalam kebersamaan sebagai keluarga Allah dan itu berarti Gereja.

Dengan kata lain kita diajak untuk menengok kembali penghayatan kerohanian kita dalam rangka keterlibatan kita secara konkrit di dalam Gereja khususnya di paroki. Meskipun seseorang sudah berdoa pribadi secara rutin, hidup moralitasnya sangat bagus, keterlibatan sosialnya sangat tinggi dalam membela keadilan masyarakat miskin, hidupnya diliputi kegembiraan dan “sense of humor” serta menikmati kebersamaan dengan orang lain dengan makan minum, namun tidak pernah ke gereja merayakan Perayaan Ekaristi secara rutin setiap hari Minggu untuk mendengarkan Sabda Allah dan menerima Komuni, ia tidak bertanggung jawab pada hidup kerohaniannya.

Jika kita bersedia datang ke Perayaan Ekaristi secara rutin pada hari Minggu dan teribat dalam komunitas yang konkrit (baik paroki maupun kategorial), kita mengalami apa yang tadi ditegaskan oleh Yesus bahwa kita ini satu saudara dengan yang lain dan menjadi saudara-saudari Yesus secara rohani. Tentu saja sebelum kita memiliki komitmen untuk menjadi anggota suatu komunitas gerejani atau keluarga Allah itu kita ingat akan Sabda Yesus tentang komitmen yang akan membuat orang diikat dengan ikat pinggang dan dibawa pergi, ke arah yang bukan kita kehendaki (bdk. Yoh. 21:18). Ketika kita masuk ke sebuah komunitas gerejani kita akan kehilangan kebebasan yang tidak teratur dalam diri kita untuk dibebaskan dari banyak hal yang menghalangi kita untuk menjadi saudara dan saudari Yesus.

Merayakan Ekaristi sebagai keluarga merupakan hal yang esensial untuk menjadi saudara-saudari Yesus. Mengatakan bahwa saya menginginkan Allah namun menolak keterlibatan secara aktif dalam Gereja adalah sebuah fantasi yang tidak berguna bagi kerohanian dan bukan suatu bentuk iman yang nyata. Pertobatan sejati menuntut penerimaan terhadap Gereja sebagai komunitas Keluarga Allah dengan semua kekurangan dan kelebihannya.

 

 

Comments are closed.
Translate »