Disneyland

Disneyland

Barukh 4:5-12, 27-29
Mazmur 69
Lukas 10:17-24

Saya masih ingat pertama kali saya pergi ke Disneyland di California. Waktu itu kira-kira saya masih umur duabelas tahun. Dari sejak Disneyland buka pagi hari sampai tutup lewat tengah malam, saya tidak berhenti berjalan mengitari taman hiburan itu dan mencoba naik semua atraksi. Kaki saya tidak kenal lelah dan semangat tidak pernah padam. Mata saya terbelalak menikmati semua keajaiban dunia impian ini. Semuanya sangat menggugah hati. Tidak salah jika tempat ini disebut “The Happiest Place on Earth.”

Hari ini Yesus mengingatkan para muridNya bahwa mereka pantas untuk berbahagia. Banyak nabi dan raja akan merasa iri jika bisa melihat dan mendengar apa yang mereka lihat dan dengar. Tuhan sendirilah yang membuka diri terhadap mereka yang seperti kanak-kanak.

Sikap seperti kanak-kanak inilah yang mungkin tidak jauh berbeda dari pengalaman saya ke Disneyland pertama kali. Seorang anak melihat semuanya dengan rasa kagum. Dia bersemangat untuk mencari tahu lebih lagi dan ingin mengerti semua detil sekecil apapun. Seperti saya di Disneyland, tidak ada yang lepas dari perhatian seorang anak.

Jika Yesus ingin kita bersikap seperti kanak-kanak, maka dunia ini adalah semacam Disneyland kita. Dunia ini penuh tanda kebesaran Tuhan. Paus Fransiskus menulis dalam surat ensiklikalnya Laudato Si’ bahwa semua ciptaan mengungkapkan keagungan Tuhan. Tapi karena kesibukan kita, karena hal-hal lain yang menyita pikiran kita, kita tidak lagi bersikap seperti anak yang terkesima akan segala hal yang sudah diciptakan Tuhan. Lebih parah lagi, kita bisa-bisa malah menganggap dunia ini dan segala isinya semata-mata sesuatu yang bisa dieksploitasi habis-habisan untuk memenuhi keserakahan kita. Jika alam ciptaan sudah rusak dan kita terkena dampaknya, barulah kita berusaha memperbaiki, tapi kadang terlambat. Saat ini, misalnya, beberapa daerah di Indonesia dan negara-negara tetangga kewalahan menghadapi kabut asap akibat pembakaran hutan yang semena-mena.

Allah masih berkarya, masih senantiasa menampakkan diriNya pada kita. Tapi tidak lagi dalam bentuk Inkarnasi seperti Yesus, melainkan melalui segala ciptaanNya. Apakah kita bisa seperti anak kecil yang melihat semuanya itu dengan rasa penuh kagum? Ataukah kita hanya sibuk mementingkan diri sendiri dan melewatkan semua tanda-tanda dari Tuhan?

Comments are closed.
Translate ยป