Belajar untuk berbahagia

Belajar untuk berbahagia

Hari Sabtu 10 Oktober 2015

Yl. 3:12-21

Luk. 11:27-28

“Belajar untuk berbahagia “

Menarik sekali bacaan injil hari ini, dimana seorang wanita memuji sang ibu yang melahirka Yesus; “”Berbahagialah ibu yang telah mengandung Engkau dan susu yang telah menyusui Engkau,” akan tetapi respons Yesus sangat tidak diduga oleh wanita tersebut dan orang-orang yang ada bersama Yesus. “Yang berbahagia ialah mereka yang mendengarkan firman Allah dan yang memeliharanya.”

Jawaban Yesus ini tentu saja tidak merendahkan ibu atau saudara-saudaranya, melainkan Yesus mau mengatakan kepada kita bahwa relasi/hubungan kita dengan Dia mendapat berkat kalau apa yang kita dengar dari padaNya kita pelihara dan wujud nyatakan dalam kehidupan kita sehari-hari.

Dengan pernyataan tersubut, Yesus juga mengajak kita semua untuk menjadi keluarga tidak hanya terbatas pada keluarga dekat. Kita mesti terbuka membagun relasi kekeluargaan yang lebih luas dengan orang diluar keluarga dekat kita. Bahkan lebih dari itu berani keluar dari rasa nyaman kita, membangun relasi dengan orang-orang miskin dan terlantar.

Dalam kunjunganya bebarapa waktu lalu di US, Pope Francis menunjukan contoh yang sangat baik bagaimana kita menjadi bagian dari orang-orang miskin disekitar kita. Pope Francis mengajak kita semua untuk membuka hati kita kepada orang yang lapar, miskin dan terasing. Orang-orang tersebut dapat kita temukan disekitar kita bahkan dalam rumah kita sendiri. Baik dalam rumah kita sendiri atau diluar lingkungan kita, kita dipanggil untuk merangkul mereka semua sebagaimana kita sendiri dirangkul oleh Tuhan.

Dalam hidup kita sehari-hari mungkin kita pernah bertanya: apa yang Yesus mau dari saya? Yesus mau sebuah relasi yang inti denganNya. Yesus merindukan senuah kedekatan relasi, relasi kekeluargaan dengan kita. Yesus menghendaki agar kita mau terbuka dan mau berserah kepadaNya terutama dalam saat dimana kita tidak mampu mengahadapi persoalan kita. Yesus tahu kelemahan manusia kita, Dia mengerti akan keterbatasan kita. Oleh karena itu Dia selalu mengundang kita untuk untuk datang kepadaNya. “Datanglah kepadaku, wahai kamu yang memikul beban berat, Aku akan meringankan bebanmu.”

Terbukakah kita untuk minta pertolongnNya? Atau masihkah kita merasa mampu untuk menghadapinya sendiri?

Mari kita buka mata, hati dan pikiran kita, datang kepada Tuhan untuk minta kekuatanNya agar kita mampu menjadi pengikutNya yang setia, mau memelihara dan melaksanakan apa yang telah kita dengar daripadaNya.

Comments are closed.
Translate »